KEDIRI – Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Kediri menunjukkan bahwa pendidikan dapat membentuk karakter siswa, bukan hanya meningkatkan kemampuan akademik.
Perubahan itu terlihat dari cara siswa berkomunikasi, menjaga kerapian, berinteraksi dengan teman, hingga menjalankan kebiasaan ibadah.
Guru Biologi SRT 1 Kabupaten Kediri, Ima Masfatus Sholihah, menyaksikan langsung perkembangan perilaku siswa selama mengikuti pendidikan.
Menurut Ima, kondisi siswa ketika pertama bergabung cukup beragam dan belum seluruhnya memiliki kebiasaan yang terarah.
“Awal kita menerima siswa itu semuanya kelas 10, awal masuk itu perilakunya masih sangat variatif, masih belum terarah,” ujar Ima.
Pendampingan yang dilakukan secara rutin selama satu tahun kemudian perlahan membawa perubahan dalam kedisiplinan dan sikap siswa.
Perkembangan itu juga tampak melalui kemampuan siswa mengendalikan emosi serta membangun hubungan yang lebih baik dengan guru dan tenaga kependidikan.
Kerapian menjadi salah satu aspek yang ikut berubah setelah siswa terbiasa mengikuti aturan dan pembiasaan di lingkungan sekolah.
“Ada yang rambutnya, mohon maaf, sedikit seperti anak punk,” kata dia mengenang.
Bagi Ima, perubahan tersebut merupakan bagian dari pendidikan karakter yang berjalan berdampingan dengan proses pembelajaran di kelas.

Belajar Bersosialisasi dengan Teman
Saat pertama masuk, sejumlah siswa masih cenderung tertutup dan hanya nyaman berinteraksi dengan kelompok pertemanan tertentu.
Guru dan wali asuh kemudian menciptakan berbagai kebiasaan agar siswa terbiasa berkomunikasi dengan lebih banyak teman.
Salah satu cara yang diterapkan ialah mengatur tempat duduk ketika makan agar siswa tidak terus berada dalam kelompok yang sama.
“Kadang semeja dengan teman A, teman B, teman C, teman yang lain. Jadi tidak melulu anak hanya bersosialisasi dengan satu orang,” jelas Ima.
Kebiasaan tersebut membuat siswa memiliki kesempatan lebih luas untuk mengenal karakter teman yang berbeda.
Dari proses itu, siswa secara bertahap belajar berkomunikasi, beradaptasi, menghargai perbedaan, dan membangun hubungan sosial yang lebih sehat.
Dampak pembiasaan bahkan mulai terlihat ketika siswa kembali menjalani kehidupan bersama keluarga di rumah.
Ima mengisahkan kunjungannya ke rumah seorang siswa setelah proses pendidikan berjalan selama satu semester.
Orang tua siswa tersebut mengaku melihat perubahan kebiasaan anak, terutama dalam menjalankan ibadah sehari-hari.
Jika sebelumnya anak masih perlu diingatkan bahkan dimarahi untuk salat, kebiasaan di Sekolah Rakyat membuatnya lebih rutin menjalankan salat lima waktu.
Perubahan itu tetap terlihat ketika siswa berada di rumah selama masa libur sekolah.
Pendidikan Karakter Jadi Bagian Utama
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa pembentukan karakter tidak berhenti pada kegiatan belajar mengajar di ruang kelas.
Kedisiplinan, kerapian, sopan santun, kemampuan bersosialisasi, dan pembiasaan ibadah mulai diarahkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari siswa.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan di Sekolah Rakyat Terintegrasi.
Sekolah tidak hanya diarahkan untuk membantu siswa mengejar prestasi akademik, tetapi juga membangun sikap yang menjadi bekal menghadapi kehidupan.
“Di Sekolah Rakyat ini kita tidak hanya berfokus di akademik. Kita juga berfokus di karakter,” tuturnya.
Ima berharap Sekolah Rakyat terus menjadi ruang pendidikan yang membuka kesempatan bagi anak-anak dari keluarga rentan untuk mendapatkan pendidikan berkualitas.
Menurutnya, perubahan kecil yang muncul dalam keseharian siswa merupakan bagian dari proses panjang menuju pribadi yang lebih percaya diri dan mandiri.
Pembentukan karakter tersebut diharapkan dapat membantu siswa berkembang menjadi generasi yang mampu mengejar cita-cita dan menghadapi tantangan masa depan.
Kisah Ima Masfatus Sholihah mengenai manfaat Program Sekolah Rakyat dapat disaksikan melalui Podcast Sinergi Indonesia di YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI.***





