MOSKOW, RUSSIA — Presiden Rusia Vladimir Putin disebut melihat peluang untuk meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat (AS) dan negara-negara anggota NATO setelah persediaan sejumlah amunisi strategis Pentagon menyusut akibat konflik militer dengan Iran.
Penilaian tersebut tercantum dalam laporan intelijen AS yang bocor dan diberitakan The Washington Post. Dalam laporan itu disebutkan, keterlibatan AS dalam konflik selama enam bulan dengan Iran berdampak terhadap ketersediaan sejumlah persenjataan penting milik Pentagon.
Beberapa jenis amunisi yang disebut mengalami penurunan stok antara lain rudal pencegat yang digunakan sistem pertahanan udara Patriot serta rudal jelajah Tomahawk. Kondisi tersebut kemudian dinilai intelijen AS berpotensi menjadi celah yang dapat dimanfaatkan Rusia untuk mengukur daya tahan aliansi Barat.
Laporan itu juga dikaitkan dengan kunjungan rahasia Direktur CIA John Ratcliffe ke Moskow. Dalam pertemuan dengan pejabat intelijen Rusia, Ratcliffe disebut menyampaikan peringatan kepada Kremlin agar tidak mengambil keputusan yang dapat memicu eskalasi besar, baik dalam konflik Ukraina maupun terhadap negara-negara anggota NATO.
Menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, Washington meminta Rusia mempertimbangkan konsekuensi politik apabila memilih meningkatkan tekanan secara militer. Eskalasi justru dinilai dapat memberikan dampak berlawanan bagi Moskow dengan mendorong Presiden AS Donald Trump memperkuat kembali hubungan politik dan militer dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Sementara itu, laporan The Wall Street Journal mengungkap penilaian intelijen yang berbeda mengenai kemungkinan langkah Rusia terhadap NATO. Putin disebut berpotensi mempertimbangkan upaya untuk menguji ketahanan aliansi tersebut dalam beberapa tahun mendatang.
Pengujian itu tidak selalu digambarkan sebagai serangan militer terbuka dalam skala besar. Sejumlah skenario yang menjadi perhatian antara lain serangan siber tingkat lanjut serta infiltrasi darat dalam skala terbatas di wilayah perbatasan negara anggota NATO.
Meski demikian, Presiden Donald Trump membantah kekhawatiran mengenai kemungkinan Rusia melancarkan serangan langsung terhadap wilayah NATO. Trump menyampaikan keyakinannya bahwa Putin tidak akan mengambil langkah tersebut.
“Dia tidak akan menyerang wilayah NATO,” kata Trump dalam wawancara dengan penyiar radio Glenn Beck.
Trump juga mengonfirmasi bahwa komunikasi yang dilakukan Ratcliffe dengan pejabat Rusia merupakan bagian dari upaya diplomatik untuk menjaga komunikasi dan meredakan ketegangan. Menurut dia, Washington masih berupaya mendorong berakhirnya perang yang berlangsung.
“Kami berupaya keras untuk mengakhiri perang itu dan terus terang, pada saat ini, kedua belah pihak sama-sama ingin melihat perang itu berakhir,” ujar Trump.
Di tengah laporan intelijen tersebut, Kremlin membantah adanya rencana Rusia untuk menyerang NATO. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov membenarkan bahwa Ratcliffe memang melakukan pembicaraan dengan pejabat intelijen Rusia dan hasil pertemuan tersebut telah disampaikan kepada Presiden Putin.
Namun, Peskov menilai informasi mengenai dugaan rencana serangan Rusia terhadap negara-negara NATO tidak memiliki dasar.
“Banyak cerita yang menakut-nakuti seperti itu diterbitkan saat ini. Tentu saja, hal-hal tersebut sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan,” kata Peskov.
Dengan demikian, laporan mengenai dugaan upaya Rusia menguji ketahanan NATO masih menjadi bagian dari penilaian intelijen AS yang dibantah Moskow. Sementara itu, komunikasi antara Washington dan Kremlin tetap berlangsung di tengah kekhawatiran mengenai kondisi persediaan persenjataan AS setelah konflik dengan Iran.



