BANDUNG – Kapten Persib Bandung Marc Klok mulai menyiapkan langkah untuk kehidupan setelah karier sepak bola berakhir. Gelandang naturalisasi Indonesia itu diterima dalam program Crossover Into Business di Harvard Business School, Amerika Serikat.
Klok mengumumkan kabar tersebut melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Kamis (27/8/2026). Dalam unggahan itu, ia memperlihatkan foto dengan latar logo Harvard Business School serta tangkapan layar surat elektronik yang mengonfirmasi penerimaannya.
Program Crossover Into Business merupakan program yang dirancang bagi atlet profesional untuk memperluas kemampuan dan wawasan di bidang bisnis. Program tersebut berlangsung selama satu semester dengan pendampingan mentor dari mahasiswa program Master of Business Administration (MBA) Harvard.
Bagi Klok, kesempatan tersebut bukan sekadar upaya menambah pendidikan di luar sepak bola. Ia memandang persiapan menuju kehidupan setelah pensiun sebagai bagian penting dari perjalanan seorang atlet profesional.
Klok tidak sepakat dengan anggapan bahwa seorang pemain akan kehilangan fokus apabila mulai memikirkan kehidupan setelah pensiun. Menurut dia, atlet justru perlu melihat perjalanan karier secara lebih luas dan mempersiapkan langkah berikutnya sejak masih aktif bermain.
“Dalam sepak bola, ada aturan tak tertulis bahwa jika kamu mulai memikirkan kehidupan setelah pensiun, itu artinya kamu sudah berhenti percaya pada permainan ini. Saya tidak pernah menerima pandangan itu,” kata Klok.
Ia kemudian menggambarkan pentingnya seorang pemain memiliki pandangan jangka panjang. Menurut Klok, atlet tidak cukup hanya memikirkan pertandingan atau tantangan yang berada tepat di depan mata.
“Pemain yang paling saya kagumi adalah mereka yang bisa melihat seluruh papan permainan, bukan sekadar operan berikutnya,” ujarnya.
Keputusan untuk mengikuti program di Harvard juga tidak lepas dari kesadaran Klok mengenai terbatasnya usia karier seorang pesepak bola profesional. Ketika karier di lapangan berakhir, seorang pemain masih memiliki perjalanan panjang yang harus dijalani di luar sepak bola.
Klok menyebut faktor tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama ketika memutuskan untuk mulai membangun bekal bagi kehidupan berikutnya.
“Ada satu angka yang membentuk keputusan saya: sebagian besar karier sepak bola berakhir di usia sekitar 35 tahun,” kata pemain bernomor punggung 23 tersebut.
Menurutnya, masa setelah pensiun justru dapat berlangsung jauh lebih panjang dibandingkan masa seseorang berkarier sebagai pesepak bola. Karena itu, persiapan untuk memasuki fase tersebut tidak seharusnya dilakukan ketika karier sudah benar-benar berakhir.
“Dan sebagian besar dari kita memasukinya tanpa rencana, tanpa jaringan koneksi, dan tanpa perbendaharaan kata untuk bisa dipandang serius di ruangan tempat keputusan-keputusan penting dibuat,” lanjut Klok.
Keputusan Klok untuk memperdalam pengetahuan bisnis juga menunjukkan bahwa pengalaman sebagai pesepak bola tidak serta-merta dapat diterapkan begitu saja ketika memasuki dunia usaha. Ia menyadari terdapat perbedaan antara kemampuan membaca permainan di lapangan dengan memahami mekanisme bisnis.
Klok mengaku memiliki kemampuan untuk membaca situasi pertandingan dengan cepat. Namun, pemahaman mengenai aspek bisnis membutuhkan pengetahuan yang lebih mendalam dan tidak cukup hanya mengandalkan intuisi.
“Hal yang saya pelajari adalah bahwa insting bukanlah sebuah strategi. Saya bisa membaca alur pertandingan dalam hitungan detik. Namun, membaca *cap table* membutuhkan waktu yang jauh lebih lama. Celah itulah yang menjadi alasan saya mendaftar,” tutur Klok.
Melalui program Crossover Into Business, Klok berharap dapat memperluas kapasitasnya di luar lapangan sekaligus membangun fondasi untuk karier berikutnya. Pengalaman sebagai pemain profesional, menurut dia, dapat menjadi modal dalam membentuk kepemimpinan, kedisiplinan, serta mentalitas kerja keras.
Di tengah kesibukannya sebagai kapten Persib Bandung dan bagian dari Timnas Indonesia, Klok kini mulai mempersiapkan fase lain dalam perjalanan kariernya. Pendidikan bisnis di Harvard menjadi salah satu langkah yang dipilihnya untuk menghadapi kehidupan setelah sepak bola, tanpa harus menunggu hingga waktunya gantung sepatu tiba.



