JATIM — TNI Angkatan Udara (TNI AU) menguji kemampuan Ship Board Operation (SBO) dengan mengoperasikan helikopter dari kapal perang TNI Angkatan Laut (TNI AL). Dalam latihan tersebut, helikopter H-3218 milik Skadron Udara 6 berhasil melakukan pendaratan di flight deck KRI Makassar di perairan Surabaya.
Latihan yang berlangsung selama tiga hari pada 24–26 Agustus 2026 itu menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapan penerbang helikopter dalam menjalankan misi penerbangan dari dan menuju kapal perang.
Pendaratan dilakukan di atas KRI Makassar, kapal perang jenis Landing Platform Dock (LPD) yang saat latihan berada di Dermaga Batoe Poron. Pengoperasian helikopter dari geladak kapal membuTNI AUtuhkan ketepatan dan kesiapan personel karena penerbangan dilakukan dalam lingkungan operasi yang berbeda dibandingkan dengan landasan di darat.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana mengatakan latihan tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan kemampuan teknis penerbang, tetapi juga memperkuat koordinasi antarmatra.
“Pelaksanaan tersebut menjadi bagian dari upaya TNI AU meningkatkan kemampuan dan kesiapan penerbang dalam melaksanakan operasi helikopter dari dan menuju kapal, sekaligus memperkuat interoperabilitas antarmatra dalam mendukung pelaksanaan operasi gabungan,” ujar I Nyoman Suadnyana.
Dalam pelaksanaannya, misi pendaratan dipimpin Letkol Pnb Sofan Hasani, S.E. selaku Pilot in Command (PIC). Sementara keseluruhan kegiatan berada di bawah supervisi Danwing Udara 2.1 Grup 2 Heli, Kolonel Pnb A. Mauludin Mulyono.
Sebelum melakukan pendaratan secara langsung di kapal perang, para penerbang terlebih dahulu menjalani sejumlah tahapan persiapan. Proses tersebut dimulai dengan pembekalan teori melalui kegiatan klasikal dan ground school di Skadron Udara 400 Pusat Penerbangan TNI AL (Puspenerbal).
Materi yang diberikan mencakup prosedur teknis penerbangan, pengelolaan navigasi laut, hingga aspek keselamatan dalam pengoperasian helikopter dari kapal perang. Tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan para penerbang memahami karakteristik operasi sebelum menghadapi kondisi sebenarnya.
Setelah menyelesaikan pembekalan, para pilot mengikuti latihan menggunakan helideck simulator. Simulasi dilakukan dengan memanfaatkan replika flight deck dan siluet Kapal Induk Garibaldi untuk melatih ketepatan pendaratan sekaligus membangun kesiapan penerbang menghadapi operasi di atas kapal.
Rangkaian simulasi itu kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan pendaratan langsung di KRI Makassar. Keberhasilan H-3218 mendarat di geladak kapal menjadi bagian dari pengujian kemampuan personel dan kesiapan operasional dalam menjalankan misi penerbangan berbasis kapal.
Kemampuan Ship Board Operation dinilai menjadi salah satu kemampuan yang dibutuhkan dalam mendukung operasi gabungan. Penguasaan prosedur tersebut memungkinkan unsur udara dan laut menjalankan operasi secara lebih terintegrasi ketika misi membutuhkan penggunaan kapal perang sebagai basis operasi helikopter.
Latihan di perairan Surabaya tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian persiapan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) TNI. Kegiatan melibatkan unsur tiga matra, yakni TNI AU, TNI AL, dan TNI AD.
Selain meningkatkan kemampuan operasional, latihan juga diarahkan untuk mendukung kesiapan teknis pelaksanaan Naval Parade serta agenda peresmian Kapal Induk Garibaldi yang dijadwalkan berganti nama menjadi KRI Gajah Mada.
Melalui latihan lintas matra tersebut, TNI AU terus mengasah kemampuan penerbang dan personelnya dalam menghadapi kebutuhan operasi gabungan. Penguatan kemampuan Ship Board Operation menjadi bagian dari kesiapan TNI AU dalam menjalankan tugas penerbangan yang melibatkan unsur laut dan udara secara terpadu.