JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meningkatkan pemantauan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Sedikitnya lima kabupaten menjadi perhatian berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB pada 1–2 September 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan kondisi kemarau membuat sejumlah wilayah menghadapi peningkatan risiko kebakaran sekaligus keterbatasan pasokan air bersih.
BNPB meminta pemerintah daerah bersama masyarakat memperkuat kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang mengalami curah hujan rendah dan kondisi lahan serta vegetasi yang semakin kering.
“Memasuki periode kemarau, BNPB mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah dengan curah hujan rendah dan kondisi vegetasi yang kering,” ujar Berton dalam keterangannya, Rabu (2/9/2026).
Salah satu wilayah yang mencatat kebakaran lahan cukup luas adalah Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Kebakaran terjadi di Desa Sejau Hilir, Kecamatan Tanjung Palas Timur, dengan luas area terdampak mencapai sekitar 55 hektare.
Hingga pemantauan terakhir, api di wilayah tersebut belum sepenuhnya padam. Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara pun telah menetapkan status siaga darurat karhutla yang berlaku mulai 20 Agustus hingga 31 Desember 2026 sebagai langkah menghadapi potensi peningkatan kejadian selama periode kemarau.
Karhutla juga terjadi di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Api membakar sekitar tiga hektare lahan di Desa Tanete, Kecamatan Anggeraja. Upaya pemadaman masih dilakukan petugas gabungan, namun kondisi medan yang sulit dijangkau serta banyaknya semak dan ilalang kering menjadi kendala di lapangan.
Di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, kebakaran melanda lahan perkebunan milik warga di Desa Sausu Tambu, Kecamatan Sausu. Area yang terdampak diperkirakan mencapai 3,5 hektare.
Meski sebagian titik api telah berhasil dikendalikan, petugas masih menemukan kepulan asap di kawasan puncak hutan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena masih terdapat potensi munculnya kembali titik api.
Sementara itu, penanganan karhutla di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, telah memasuki tahap akhir. Kebakaran yang melanda sekitar tiga hektare lahan Perhutani di Dusun Dampu, Desa Kalongan, Kecamatan Ungaran Timur, berhasil dipadamkan. Petugas kemudian melakukan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Selain ancaman kebakaran, musim kemarau juga mulai berdampak terhadap ketersediaan air bersih. Kondisi tersebut terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, tepatnya di Desa Babulu, Kecamatan Sebakung Jaya.
Sebanyak 456 kepala keluarga (KK) di wilayah tersebut mengalami krisis air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah menyalurkan bantuan air untuk memenuhi kebutuhan warga.
Hingga saat ini, distribusi air bersih yang telah dilakukan mencapai 62.000 liter.
BNPB mengingatkan masyarakat agar turut mengambil langkah pencegahan untuk menekan risiko karhutla selama musim kemarau. Salah satunya dengan tidak menggunakan api untuk membuka maupun membersihkan lahan.
Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan serta memastikan bara api benar-benar padam setelah melakukan aktivitas di kawasan terbuka.
Di sisi lain, warga yang berada di wilayah terdampak kekeringan diminta menggunakan air bersih secara hemat. BNPB juga mendorong masyarakat untuk mengikuti informasi peringatan dini cuaca yang disampaikan BMKG dan pemerintah daerah melalui BPBD.
Apabila menemukan titik api atau menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih, masyarakat diminta segera melaporkan kondisi tersebut kepada aparat setempat. Pelaporan lebih awal dinilai penting agar langkah penanganan dapat dilakukan dengan cepat sebelum kondisi meluas.