JAKARTA – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menyalurkan bantuan tanggap darurat senilai Rp3 miliar untuk masyarakat yang terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis kepada jajaran Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) NTT saat Nasaruddin melakukan kunjungan ke Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Kamis (3/9/2026).
Kemenag menyebut bantuan tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat melewati masa tanggap darurat sekaligus mendukung pemulihan fasilitas pendidikan dan keagamaan yang terdampak bencana.
Bantuan Pendidikan Turut Disalurkan
Selain dana tanggap darurat, Kemenag juga memberikan dukungan untuk keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di wilayah yang terdampak.
Sebanyak 16 tenda darurat untuk kegiatan belajar serta perlengkapan sekolah turut disalurkan. Sebelumnya, Kemenag juga telah menyiapkan 1.000 school kit bagi siswa madrasah yang terdampak gempa.
Langkah tersebut dilakukan agar proses pendidikan tetap dapat berjalan meskipun sejumlah fasilitas sekolah mengalami kerusakan. Data sementara Kemenag sebelumnya mencatat terdapat 72 madrasah yang terdampak gempa di Flores.
Dampak Gempa Menyentuh Fasilitas Keagamaan
Dampak gempa tidak hanya dirasakan oleh masyarakat dan fasilitas pendidikan. Kemenag NTT mencatat terdapat 509 rumah ibadah yang terdampak atau mengalami kerusakan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 422 merupakan rumah ibadah Katolik, 33 rumah ibadah Kristen, 51 masjid, satu pura, dan dua rumah ibadah Buddha.
Selain rumah ibadah, tercatat pula 457 bangunan di lingkungan Kemenag, lembaga pendidikan keagamaan, hingga rumah aparatur sipil negara (ASN) Kemenag terdampak bencana.
Bantuan Disalurkan ke Sejumlah Wilayah
Penanganan dampak gempa dilakukan secara bertahap dengan memetakan kebutuhan masyarakat di sejumlah daerah Flores.
Bantuan Kemenag telah diarahkan ke beberapa wilayah, di antaranya Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat.
Kemenag juga memberikan santunan kepada keluarga siswa madrasah yang meninggal dunia akibat bencana. Layanan pendidikan dan keagamaan di daerah terdampak terus diupayakan agar dapat berjalan kembali secara bertahap.
Gempa Flores dan Upaya Pemulihan
Gempa yang mengguncang wilayah Flores terjadi pada 15 Agustus 2026. BMKG mencatat aktivitas gempa susulan masih terjadi setelah gempa utama, dengan 235 kejadian tercatat hingga pukul 14.00 WIB pada hari yang sama. Gempa susulan tersebut memiliki magnitudo antara 2,5 hingga 6,2.
Pemerintah kemudian melakukan berbagai langkah penanganan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mempercepat pemulihan fasilitas yang rusak.
Bagi Kemenag, proses pemulihan tidak hanya berkaitan dengan bantuan material. Keberlangsungan pendidikan dan aktivitas keagamaan juga menjadi bagian penting agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara bertahap setelah bencana.
Penyaluran bantuan Rp3 miliar tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan pemerintah untuk membantu masyarakat Flores menghadapi dampak gempa sekaligus mempercepat pemulihan fasilitas pendidikan dan keagamaan.***