Konferensi pers jelang Grand Prix Italia berubah menjadi panggung drama panas setelah Bos McLaren, Andrea Stella, terpaksa pasang badan membela integritas timnya dan Pengadilan Banding FIA (FIA Court of Appeal). Ketegangan ini dipicu oleh kembalinya sanksi penalti 10 detik bagi pembalap Alpine, Pierre Gasly, di GP Monaco.
Hukuman Gasly kembali berlaku setelah Red Bull dan McLaren memenangkan banding atas keputusan FIA sebelumnya. Alpine sempat membatalkan penalti tersebut lewat jalur Right of Review usai menemukan deviasi ukuran pit lane sebesar 77 sentimeter.
Suasana konferensi pers resmi FIA kian keruh lantaran Stella duduk bersisian langsung dengan Bos Alpine, Flavio Briatore. Briatore yang naik pitam melontarkan tuduhan keras terhadap hakim pengadilan banding, menyebut sang hakim “sangat licik” serta menuding adanya hubungan tersembunyi dengan McLaren yang memicu bias dalam pengambilan keputusan.
Stella Balas Menohok: “Tuduhan yang Sangat Menghina”
Merespons tuduhan liar dari Briatore, Stella awalnya mencoba meredam suasana dengan menegaskan fokus pada substansi hukum, sebelum akhirnya melayangkan teguran terbuka.
“Reaksi saya adalah tentang keputusan Pengadilan Banding Internasional. Jika kita ingin membahas itu, saya dengan senang hati berkomentar. Namun jika kita ingin membahas jenis tuduhan seperti ini, menurut saya itu tidak pantas,” tegas Stella.
Ketika Briatore terus menyerang proses peradilan FIA dan kredibilitas tim lawan, Stella tak lagi tinggal diam.
“Konferensi pers ini mengarah ke arah yang sangat menghina McLaren dan reputasi tim yang sangat menghormati aturan. Jika ada yang membuat tuduhan serius seperti itu di ruang publik, mereka harus bertanggung jawab atas ucapan mereka. Persidangan di Pengadilan Banding Internasional telah dijalankan dengan standar tertinggi, dan proses itu tidak seharusnya dipertanyakan secara tidak beretika seperti ini,” lanjut Stella.
Demi Keadilan Olahraga, Bukan Sekadar Dua Poin
Pembatalan kemenangan banding Alpine ini secara otomatis menguntungkan pembalap McLaren, Oscar Piastri, yang naik ke posisi keempat dan mengamankan dua poin tambahan di klasemen.
Kendati demikian, Stella membantah jika motivasi utama langkah hukum McLaren semata-mata demi angka di papan klasemen.
“Kami sangat menyambut baik keputusan ini karena memberikan kejelasan hukum terkait penerapan Pasal 1.1.1 Kode Olahraga Internasional FIA yang menjadi pondasi utama regulasi. Bagi kami, ini bukan soal dua poin championship—poin itu mungkin tidak membuat perbedaan besar di akhir musim. Kami khawatir tentang penerapan kesetaraan dan keadilan olahraga (sporting fairness),” papar Stella.
Tiga Catatan Evaluasi Evaluasi Regulasi FIA
Dampak dari polemik ini membuat FIA merencanakan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur peradilan balap, termasuk mekanisme Right of Review.
Merespons rencana perbaikan regulasi oleh FIA, Stella memberikan tiga rekomendasi krusial yang perlu ditinjau ulang:
-
Dukungan untuk Stewards: Memberikan kondisi dan ruang kerja yang ideal bagi stewards dalam mengambil keputusan di bawah tekanan waktu yang sangat sempit.
-
Kriteria Right of Review: Memperketat ambang batas dan syarat diterimanya permohonan peninjauan kembali agar tidak mudah dimanipulasi.
-
Konsistensi Metodologi Pengukuran: Menyusun standar baku yang konsisten dalam mengukur parameter teknis di lintasan, mulai dari batas kecepatan pit lane hingga timbangan bobot mobil.