JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) telah menimbulkan dampak yang signifikan akibat abu vulkanik yang disemburkan.
Alhasil sejumlah penerbangan di Bandara Soekarno Hatta pada Minggu (6/9/2026), domestik maupun internasional ditunda.
Abu vulkanik menjadi ancaman serius bagi penerbangan karena partikel halus yang masuk ke mesin pesawat dapat merusak komponen, mengganggu pembakaran, hingga menyebabkan mesin kehilangan tenaga.
Tidak seperti debu biasa, abu vulkanik mengandung silika, yakni material keras yang dapat bersifat abrasif dan menyerupai serpihan kaca sangat halus.
Ketika pesawat melintas di awan abu, partikel tersebut dapat tersedot ke dalam mesin jet bersama aliran udara yang dibutuhkan untuk proses pembakaran.
Apa yang Terjadi ketika Abu Vulkanik Masuk ke Mesin Pesawat?
Di bagian dalam mesin jet, abu vulkanik akan menghadapi temperatur sangat tinggi, terutama pada area pembakaran dan komponen panas lainnya.
Menurut Federal Aviation Administration (FAA) atau Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat, sebagian material abu dapat meleleh akibat panas ekstrem di dalam mesin.
Material yang telah meleleh kemudian berubah menjadi lapisan lengket dan dapat menempel pada bilah turbin, kompresor, serta komponen mesin lainnya.
Endapan tersebut berpotensi mengubah karakteristik aliran udara di dalam mesin dan mengganggu proses kerja sistem pembakaran.
Bahaya lain berasal dari sifat abrasif abu vulkanik yang dapat mengikis permukaan komponen dan mempercepat terjadinya kerusakan pada bagian mesin.
Dalam kondisi tertentu, gangguan tersebut dapat memicu compressor stall atau gangguan aliran udara pada kompresor yang membuat kinerja mesin menjadi tidak normal.
Abu vulkanik juga dapat menyebabkan kenaikan Exhaust Gas Temperature (EGT) atau suhu gas buang, yang menjadi salah satu indikator meningkatnya tekanan termal pada mesin.
Jika gangguan semakin parah, proses pembakaran dapat terganggu dan berujung pada flameout, yaitu kondisi ketika api pembakaran di dalam mesin padam.
Pada situasi ekstrem, flameout dapat membuat mesin kehilangan tenaga sehingga pesawat harus segera keluar dari area awan abu untuk mengurangi risiko lebih besar.
Sulit Dideteksi Pilot dan Radar
Ancaman abu vulkanik semakin berbahaya karena awan abu tidak selalu mudah dikenali oleh pilot, terutama saat penerbangan malam atau ketika bercampur dengan awan biasa.
Awan abu vulkanik juga umumnya tidak dapat dideteksi secara efektif oleh radar cuaca pesawat maupun radar pengatur lalu lintas udara.
Kondisi tersebut membuat pesawat berisiko memasuki area abu tanpa menyadari tingkat bahaya yang berada di depan jalur penerbangan.
FAA mencatat setidaknya dua pesawat Boeing 747 pernah mengalami kehilangan tenaga pada seluruh empat mesin setelah memasuki awan abu vulkanik.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa abu vulkanik dapat menimbulkan ancaman serius, bahkan terhadap pesawat berbadan lebar yang menggunakan mesin jet berdaya besar.
Mengapa Mesin Bisa Hidup Kembali?
Dalam sejumlah kejadian, mesin pesawat dapat kembali beroperasi setelah pesawat berhasil keluar dari awan abu dan memasuki lapisan udara dengan temperatur lebih rendah.
Material silika yang sebelumnya meleleh dan menempel pada komponen mesin dapat mengeras, retak, lalu terlepas ketika kondisi temperatur berubah.
Kondisi itu memungkinkan aliran udara kembali membaik sehingga mesin dapat kembali diputar dan dilakukan proses relight atau penyalaan ulang mesin.
Namun, mesin yang berhasil menyala kembali tidak berarti bebas dari kerusakan karena abrasi dan endapan abu tetap dapat meninggalkan dampak pada komponen.
Pemeriksaan menyeluruh setelah pesawat terpapar abu vulkanik menjadi langkah penting untuk memastikan kondisi mesin dan keselamatan penerbangan berikutnya.
Bukan Sekadar Abu Masuk ke Mesin
Ancaman utama abu vulkanik bukan hanya karena partikel masuk ke mesin, melainkan akibat gabungan abrasi, pelelehan material, penumpukan endapan, dan gangguan aliran udara.
Abu vulkanik mengandung material silika yang bersifat keras dan abrasif, sehingga dapat merusak komponen ketika terus-menerus menghantam permukaan mesin.
Ketika tersedot ke mesin jet, sebagian partikel dapat meleleh akibat temperatur tinggi, kemudian menempel dan menumpuk pada komponen panas seperti turbin.
Endapan tersebut dapat mengganggu aliran udara, meningkatkan temperatur mesin, menyebabkan gangguan pembakaran, bahkan memicu kehilangan tenaga mesin.
Risiko itulah yang membuat keberadaan awan abu vulkanik menjadi perhatian penting dalam keselamatan penerbangan di sekitar gunung api aktif.
Dalam praktik penerbangan, pesawat pada umumnya diarahkan untuk menghindari kawasan awan abu vulkanik, bukan menerobosnya.
Langkah penghindaran dilakukan karena ancaman abu terhadap pesawat dapat berkembang cepat dan berpotensi memengaruhi performa mesin secara signifikan.
Informasi mengenai sebaran abu vulkanik, arah angin, ketinggian awan, dan aktivitas gunung api menjadi faktor penting dalam menentukan keselamatan rute penerbangan.
Dengan demikian, bahaya abu vulkanik terhadap pesawat berasal dari kombinasi kerusakan fisik, gangguan aliran udara, gangguan pembakaran, hingga risiko kegagalan mesin.***