Unggahan video yang memperlihatkan kondisi air laut surut drastis di kawasan pesisir dekat Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, mendadak viral di media sosial dan memicu kekhawatiran masyarakat. Menanggapi keresahan tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa fenomena tersebut bukanlah sinyal awal kedatangan tsunami.
Video yang diunggah oleh akun Threads @topan_desmon pada Minggu (6/9/2026) memperlihatkan garis pantai yang mengering jauh ke tengah laut, menyerupai hamparan daratan baru di sekitar area Selat Sunda.
Pemantauan 20 Tide Gauge: Pola Pasang-Surut Masih Normal
Kepala BMKG Wilayah II, Hartanto, menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menemukan bukti ilmiah yang menghubungkan surutnya air laut dalam video tersebut dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan hasil pemantauan komprehensif hingga Minggu (6/9) pagi, dinamika permukaan air di kawasan Selat Sunda dipastikan berada dalam ritme alami.
“BMKG melaporkan bahwa hingga 6 September 2026 pukul 07.30 WIB, pemantauan melalui 20 tide gauge di sekitar Selat Sunda menunjukkan muka air laut masih mengikuti pola pasang-surut astronomis yang normal,” terang Hartanto, Senin (7/9/2026).
Hartanto menambahkan bahwa jaringan sensor seismik BMKG juga tidak merekam adanya indikasi bahaya, seperti sinyal longsoran skala besar pada dinding gunung, pergeseran massa bawah laut, maupun gempa tektonik susulan yang berpotensi memicu gelombang pasang.
“Dengan demikian, saat laporan ini diterbitkan, tidak terdapat ancaman tsunami akibat erupsi Anak Krakatau. Unggahan di media sosial tersebut sebaiknya diperlakukan sebagai rekaman kondisi lokal, bukan bukti terjadinya tsunami,” tegasnya.
Imbauan Tetap Waspada dan Kenali Tanda Alam
Kendati situasi terkendali, BMKG mengingatkan masyarakat pesisir dan wisatawan untuk tetap mengedepankan kewaspadaan mandiri. Hartanto membagikan panduan keselamatan apabila masyarakat menemui tanda-tanda anomali di sepanjang garis pantai.
Jika air laut mendadak surut secara drastis di luar siklus harian—terutama bila disertai dentuman gemuruh kuat dari arah laut atau munculnya gelombang yang tidak wajar—masyarakat diminta untuk tidak menunggu instruksi formal dan segera melakukan evakuasi mandiri.
“Segera menjauh dari area pantai menuju tempat yang lebih tinggi, serta selalu pantau pemutakhiran informasi resmi dari BMKG, PVMBG, dan BPBD setempat,” tutup Hartanto.