JAKARTA — Inovasi dan pemanfaatan teknologi kedirgantaraan memegang peranan krusial dalam mengakselerasi pembangunan daerah serta memutus keterisolasian geografis kawasan transmigrasi di Indonesia. Hal tersebut ditegaskan oleh Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, saat menyampaikan kuliah umum di Aula Superpuma, Kampus C Universitas Dirgantara Marsekal Suryadharma (Unsurya), Jakarta, pada Kamis (10/9/2026).
Kegiatan akademik yang diinisiasi oleh Fakultas Teknik Dirgantara dan Industri (FTDI) Unsurya ini mengangkat tema strategis “Peran Teknologi Kedirgantaraan dalam Konektivitas Antarwilayah Transmigrasi”. Forum ilmiah ini menjadi ruang diskusi edukatif yang menghubungkan kepakaran riset penerbangan dengan visi kementerian dalam merancang pemerataan kesejahteraan masyarakat di berbagai kawasan penempatan transmigran di pelosok Nusantara.
Dalam paparannya, Menteri Transmigrasi menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan akademisi untuk melahirkan solusi nyata di lapangan. Menurutnya, tantangan geografis Indonesia yang bercorak kepulauan menuntut pemanfaatan moda transportasi udara yang adaptif. Kehadiran teknologi kedirgantaraan, mulai dari rute perintis hingga inovasi rantai pasok aviasi, dinilai mampu memangkas waktu tempuh mobilitas barang dan jasa serta mempercepat integrasi ekonomi kawasan transmigrasi dengan pusat-pusat pertumbuhan nasional.

Sebelum sesi paparan, Menteri Transmigrasi disambut langsung oleh Ketua Yayasan Adi Upaya (Yasau), Marsekal Muda TNI (Purn.) Dr. Jemi Trisonjaya, dan Rektor Unsurya, Marsekal Muda TNI (Purn.) Dr. Sungkono. Turut mendampingi jajaran pimpinan sivitas akademika purnawirawan perwira tinggi TNI AU, serta rombongan pejabat kementerian, di antaranya Staf Khusus Ni Luh Putu Caosa I, Staf Ahli Harlina Sulistiyorini, dan Kepala Biro SDM, Organisasi, dan RB I Gede Made Wirabrata.
Sesi kuliah umum yang dipandu oleh Dekan FTDI Unsurya, Dr. Aprilia Sakti, berlangsung dinamis dan edukatif. Para taruna, mahasiswa, dan dosen antusias mengajukan pertanyaan kritis mengenai rancang bangun sistem logistik udara, kesiapan infrastruktur pendaratan di daerah perintis, hingga pengoperasian wahana penerbangan. Dialog ini menegaskan bahwa keilmuan dirgantara memiliki dimensi sosial-ekonomi yang luas untuk mendukung pelayanan publik di daerah terluar.

Sebagai bentuk apresiasi, pihak Unsurya menyerahkan sertifikat, plakat kehormatan, dan cenderamata karikatur kepada Menteri Transmigrasi. Rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama dan konferensi pers. Kepada awak media, Menteri Transmigrasi menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat kerja sama strategis dengan Unsurya, khususnya dalam riset terapan kedirgantaraan serta penyiapan sumber daya manusia unggul demi kemajuan kawasan transmigrasi Indonesia.