KALTENG — Polri memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dengan menggabungkan pengerahan personel, teknologi pemantauan, kendaraan khusus, peralatan pemadaman, perlindungan bagi petugas, hingga rekayasa tata air di kawasan gambut.
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo mengatakan penguatan dilakukan untuk memastikan personel memiliki dukungan yang memadai dalam menghadapi kebakaran, termasuk di lokasi yang sulit dijangkau. Kesiapan tersebut juga diarahkan untuk mempercepat deteksi titik panas dan proses pemadaman di lapangan.
Dedi menyampaikan hal itu saat meninjau Posko Induk Penanganan Karhutla Polda Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Jumat (11/9/2026).
Menurut Dedi, dukungan mobilitas menjadi salah satu bagian penting dalam operasi penanganan karhutla. Polri menyiapkan 12 kendaraan double cabin yang telah dilengkapi tangki dan perangkat penanganan karhutla. Selain itu, terdapat kendaraan AWC, mobil pemadam kebakaran dan tactical karhutla, satu kendaraan Komodo, 14 sepeda motor modifikasi, serta satu unit ATV.
“Kekuatan lapangan antara lain diperkuat 12 kendaraan double cabin yang dilengkapi tangki dan peralatan karhutla, kendaraan AWC, Damkar dan tactical karhutla, satu kendaraan Komodo, 14 sepeda motor modifikasi, serta satu ATV untuk mendukung mobilitas personel di medan sulit,” kata Dedi.
Penguatan tidak hanya dilakukan melalui kendaraan dan personel. Polri juga memanfaatkan drone thermal untuk membantu menemukan sumber panas yang tidak mudah terlihat secara langsung.
Teknologi tersebut digunakan terutama ketika jarak pandang terbatas akibat asap maupun ketika titik kebakaran berada di medan yang menyulitkan pemantauan secara kasatmata. Dengan dukungan pemantauan udara, sumber panas diharapkan dapat lebih cepat diketahui untuk segera ditindaklanjuti petugas di lapangan.
Dari sisi pemadaman, Polri menyiapkan sejumlah pompa dengan berbagai kapasitas. Peralatan tersebut terdiri atas tiga unit pompa Alkon berukuran 3 inci, 75 unit Alkon 2 inci, serta 30 unit Alkon portable berukuran 1,5 inci.
Perangkat pompa itu dilengkapi berbagai jenis selang untuk menyesuaikan kebutuhan di lokasi kebakaran. Persediaannya mencakup 50 roll selang spiral 3 inci, 100 roll spiral 2 inci, 100 roll spiral 1,5 inci, 100 roll canvas 2 inci, dan 100 roll canvas 1,5 inci.
Selain itu, disiapkan 150 konektor selang atau nozzle, 100 hose adapter, 20 tool box kit, 100 fire beater, serta 20 folding water tank. Beragam peralatan tersebut menjadi bagian dari dukungan operasional untuk menghadapi karakter medan dan kebutuhan pemadaman yang berbeda-beda.
Keselamatan petugas juga menjadi perhatian dalam penguatan operasi karhutla. Polri menyiapkan perlengkapan perlindungan untuk menghadapi panas dan asap selama personel menjalankan tugas di lokasi kebakaran.
“Dukungan perlengkapan meliputi 40 pakaian anti-panas, 50 pasang sepatu anti-panas, 50 pasang sarung tangan anti-panas, 200 pasang boots, 63 tabung oksigen 6,7 kilogram, 187 tabung oksigen 2 kilogram, 25 set masker dan tabung oksigen, 400 masker asap, 50 senter jarak jauh, dan 150 headlamp,” ujar Dedi.
Untuk menunjang kebutuhan operasional lainnya, Polri turut menyiapkan 4.000 liter cairan X-Fire dari Slog Polri, tiga generator berkapasitas 5.000 watt, 50 backpack, serta dua unit Wontech.
### Penanganan Karhutla Tak Hanya Mengandalkan Pemadaman
Dedi menegaskan, penanganan karhutla tidak semata-mata dilakukan dengan memadamkan api setelah kebakaran terjadi. Khusus di kawasan gambut, strategi juga diarahkan pada pengelolaan kondisi lahan, terutama ketersediaan air.
Menurut dia, kondisi muka air gambut yang ideal berada pada kisaran 40 sentimeter. Namun, di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, muka air gambut disebut dapat mencapai sekitar 120 sentimeter.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, upaya mitigasi dilakukan melalui sejumlah langkah, mulai dari penyekatan kanal dan pengisian kembali air hingga pembangunan sumur bor serta embung. Akses menuju kawasan rawan juga dibuka agar petugas dapat bergerak lebih cepat ketika terjadi kebakaran.
Infrastruktur pendukung mitigasi yang saat ini tersedia mencakup 220 sumur bor dan 104 embung air.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla di kawasan gambut dilakukan tidak hanya pada saat api muncul, tetapi juga melalui upaya menjaga kondisi lahan agar lebih siap menghadapi risiko kebakaran.
Dalam pelaksanaannya, Polri tidak bekerja sendiri. Penanganan karhutla dilakukan bersama TNI, pemerintah daerah, Manggala Agni, serta masyarakat.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mempercepat setiap tahapan penanganan, mulai dari menemukan titik api, melakukan tindakan awal, hingga mencegah kebakaran meluas.
Dedi menekankan pentingnya upaya maksimal dari seluruh unsur yang terlibat karena penanganan karhutla merupakan tanggung jawab bersama.
“Usaha maksimal wajib dilaksanakan. Karena ini merupakan tanggung jawab bersama,” tutupnya.