JAKARTA – Air Waduk Gajah Mungkur (WGM) di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, kembali menyusut pada musim kemarau. Kondisi tersebut membuat sejumlah area yang biasanya berada di bawah permukaan air mulai terlihat, termasuk makam-makam lama yang berada di kawasan waduk.
Kemunculan makam tersebut bukan fenomena baru. Area pemakaman lama memang berada di wilayah yang terdampak pembangunan Waduk Gajah Mungkur. Ketika permukaan air turun cukup signifikan, bagian dasar waduk yang sebelumnya tergenang kembali terlihat.
Fenomena serupa juga pernah terjadi pada musim kemarau sebelumnya. ANTARA pada Oktober 2023 melaporkan ratusan makam muncul di area Waduk Gajah Mungkur ketika permukaan air menyusut akibat musim kemarau.
Makam Muncul Saat Air Waduk Menyusut
Kemunculan makam-makam lama menjadi salah satu pemandangan yang muncul ketika debit air Waduk Gajah Mungkur mengalami penurunan.
Sejumlah makam yang sebelumnya berada di bawah genangan kembali terlihat di permukaan. Kondisi tersebut membuat area yang biasanya menjadi bagian dari waduk berubah menjadi lahan terbuka.
Fenomena ini bahkan disebut sebagai kejadian yang berulang. Berdasarkan laporan mengenai kondisi WGM, makam biasanya mulai terlihat ketika memasuki periode kemarau dan air waduk mengalami penyusutan.
Waduk Gajah Mungkur Dibangun pada Era 1970-an
Waduk Gajah Mungkur merupakan salah satu bendungan besar di Jawa Tengah yang berada di Kabupaten Wonogiri. Pembangunannya dimulai pada 1976 dan waduk mulai beroperasi pada 1982.
Pembangunan waduk dilakukan dengan membendung aliran Sungai Bengawan Solo. Keberadaan waduk memiliki sejumlah fungsi, antara lain untuk pengendalian banjir, irigasi, pembangkit listrik tenaga air, perikanan, serta pariwisata.
Luas genangan maksimum Waduk Gajah Mungkur tercatat sekitar 8.800 hektare. Waduk tersebut juga mencakup wilayah beberapa kecamatan di Kabupaten Wonogiri.
Fenomena Tahunan Saat Musim Kemarau
Surutnya air hingga menyingkap makam lama bukan berarti makam-makam tersebut baru ada. Lokasi pemakaman tersebut sudah berada di kawasan yang kemudian tergenang setelah pembangunan waduk.
Ketika musim kemarau menyebabkan permukaan air turun, bagian wilayah yang sebelumnya tertutup air kembali muncul. Karena itu, masyarakat sekitar sudah mengenal kemunculan makam tersebut sebagai fenomena yang dapat terjadi secara berkala.
Kemunculan makam juga menjadi penanda visual mengenai perubahan tinggi muka air waduk. Selain makam, sejumlah area lain di dasar waduk seperti lahan dan jalan lama juga dapat kembali terlihat ketika kondisi air cukup surut.
Meski demikian, masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi kawasan sekitar waduk dan mengikuti informasi dari pihak berwenang, terutama ketika beraktivitas di area dasar waduk yang kembali terbuka.