NEW YORK — Aryna Sabalenka berada satu langkah dari sejarah saat menghadapi Elena Rybakina pada final tunggal putri US Open 2026 di New York, Minggu (13/9/2026) pagi WIB.
Petenis Belarus itu memburu gelar US Open ketiga secara beruntun setelah menjadi juara dalam dua edisi sebelumnya.
Jika kembali menang, Sabalenka akan menjadi wanita pertama sejak Serena Williams pada 2012-2014 yang mampu mencetak hat-trick gelar US Open.
Sabalenka juga membawa catatan impresif karena belum terkalahkan di Flushing Meadows selama tiga tahun terakhir.
Namun, dominasi tersebut tidak sepenuhnya berujung keuntungan karena Sabalenka harus kehilangan posisi nomor satu dunia.
Rybakina dipastikan mengambil alih takhta WTA setelah rangkaian hasil di US Open 2026 mengakhiri 99 pekan beruntun Sabalenka sebagai petenis nomor satu.
Meski demikian, kehilangan peringkat teratas tidak mengurangi fokus Sabalenka untuk mempertahankan trofi US Open.
Kepercayaan diri Sabalenka terlihat jelas ketika menyingkirkan Jessica Pegula pada semifinal dengan skor 7-5, 6-2.
Kemenangan tersebut sekaligus mengantarkan Sabalenka ke final US Open untuk keempat kalinya secara berturut-turut.
Pelatih performa Sabalenka, Jason Stacy, menilai anak asuhnya kembali menemukan karakter terbaik setelah melalui periode yang cukup berat.
“Aryna kembali mengingat siapa dirinya dan benar-benar selaras dengan dirinya sendiri,” ujar Stacy, dilansir The Mirror US, Sabtu.
“Dia tahu kemampuan yang dimilikinya dan memahami bahwa menghadapi pemain seperti Jess di panggung besar membutuhkan peningkatan level permainan.”
Stacy kemudian menggunakan perumpamaan yang menggambarkan keyakinannya terhadap dominasi Sabalenka di New York.
“Tanpa bermaksud tidak menghormati siapa pun, saya melihat ini sebagai rumahnya, sementara petenis lain hanyalah tamu dan sudah waktunya mereka pulang,” kata Stacy.
Komentar tersebut muncul setelah Sabalenka menunjukkan permainan agresif dan konsisten ketika menghadapi Pegula di Arthur Ashe Stadium.
Dalam laga semifinal itu, Sabalenka mencatat 29 winner dan terus menekan Pegula dengan tempo tinggi sepanjang pertandingan.
Sabalenka sendiri sebelumnya menyebut Arthur Ashe Stadium seperti rumahnya setelah memastikan tiket menuju partai puncak.

Penampilan tersebut menjadi sinyal bahwa Sabalenka kembali menemukan bentuk permainan terbaiknya menjelang pertandingan terbesar di turnamen.
Perjalanan Sabalenka menuju final memang tidak sepenuhnya mulus sepanjang musim 2026.
Pada perempat final French Open, Sabalenka sempat kehilangan kendali setelah gagal mempertahankan keunggulan dan akhirnya kehilangan 10 gim secara beruntun.
Langkahnya di Wimbledon juga terhenti pada babak keempat setelah dikalahkan Naomi Osaka.
Hasil kurang memuaskan kembali terjadi di turnamen WTA 1000 Kanada dan Cincinnati karena Sabalenka gagal melewati babak 16 besar.
Namun, performanya berubah drastis ketika kembali tampil di New York dan menemukan kembali kepercayaan diri di lapangan keras.
Stacy menilai kunci permainan Sabalenka adalah kemampuannya mengendalikan pertandingan tanpa terjebak mengikuti ritme lawan.
“Dia harus memahami bahwa tugasnya adalah menentukan tempo, mengetahui strateginya dan tidak mengikuti level pemain di seberang net,” ujar Stacy.
“Dia tidak perlu menyesuaikan diri dengan lawannya karena tugasnya adalah menjalankan pekerjaannya sendiri.”
Menurut Stacy, Sabalenka tampil paling berbahaya ketika mampu menjaga hubungan dengan dirinya sendiri dan tetap berada dalam momen pertandingan.
“Ketika dia bisa bermain dengan cara seperti itu, semua orang akan berada dalam masalah,” katanya.
Final melawan Rybakina akan menjadi ujian besar karena sang lawan bukan sekadar penantang gelar, tetapi juga petenis yang segera menduduki peringkat satu dunia.
Pertemuan tersebut mempertemukan juara bertahan dua kali dengan pemain yang baru saja merebut posisi puncak ranking WTA.
Sabalenka memiliki kesempatan mengubah kehilangan peringkat nomor satu menjadi motivasi untuk mencatat sejarah baru di Flushing Meadows.
Sementara itu, Rybakina berpeluang mengakhiri dominasi Sabalenka sekaligus merayakan status nomor satu dunia dengan trofi Grand Slam.
Final US Open 2026 pun menghadirkan pertarungan antara ambisi mencetak sejarah dan misi menggulingkan penguasa New York.***