Jarum jam menunjukkan pukul 19.27 WIB ketika Erianto membasuh wajahnya dengan air wudu di Masjid Raya Ikhlas Ar Rahman, Kayu Aro, Kabupaten Solok. Malam itu, sekitar 30 jemaah telah berbaris rapi di belakangnya. Erianto kemudian melangkah ke mihrab, memimpin salat Isya di tengah keheningan malam yang semula damai.
Namun, ketenangan itu seketika pecah saat salat memasuki rakaat ketiga. Begitu bangkit dari duduk di antara dua sujud, dentum gemuruh dahsyat bergetar dari balik dinding masjid, disusul teriakan histeris warga dari arah luar.
Kepanikan tak terhindarkan. Sejumlah jemaah memilih membatalkan salat dan berlari keluar untuk menyelamatkan diri. Meski begitu, Erianto bersama sekitar 20 jemaah lainnya memilih tetap teguh melanjutkan salat hingga salam.
“Sebagian jemaah panik dan bergegas keluar. Namun, ada sekitar 20 jemaah yang memilih tetap melanjutkan salat hingga selesai,” kenang Erianto.
Saat itu, mereka sama sekali belum menyadari bahwa gelombang banjir bandang berarus deras tengah menerjang dan meratakan permukiman di sekeliling masjid.
Terjebak di Lantai Dua dan Benteng Minibus
Tekanan air yang sangat kuat dari luar justru membuat pintu utama masjid tertutup rapat secara alami, mencegah luapan air langsung menerobos ruang utama ibadah.
Begitu menyelesaikan salatnya, barulah Erianto menyaksikan pemandangan mengerikan di luar. Air pekat bercampur lumpur melaju kencang, membawa material batu-batu raksasa dan gelondongan kayu.
Tanpa berpikir panjang, Erianto bergegas memboyong istri, ketiga anaknya, serta belasan jemaah dan warga yang mencari perlindungan untuk naik ke lantai dua. Hanya dalam hitungan menit, air di sekitar masjid melonjak hingga setinggi 1,5 meter.
Malam itu berlangsung mencekam. Lebih dari satu jam mereka bertahan dalam kepungan banjir di lantai dua sebelum akhirnya tim SAR gabungan datang mengevakuasi.
Di tengah terjangan air bah, fenomena tak terduga terjadi. Delapan unit minibus yang terseret arus deras justru hanyut dan tersangkut menumpuk di lantai satu masjid. Tanpa disadari, tumpukan mobil tersebut bertindak sebagai “benteng” darurat yang memecah dan menahan hantaman langsung material berat sebelum merusak struktur utama bangunan.
Keesokan harinya, pelataran Masjid Raya Ikhlas Ar Rahman berubah menjadi lautan lumpur dan bangkai kendaraan. Kendati dipenuhi endapan material, bangunan masjid terbukti tetap kokoh berdiri.
Bagi Erianto yang sudah lima tahun menetap di sana, bencana ini datang tanpa peringatan lantaran Kayu Aro malam itu hanya diguyur hujan ringan. Demi mengantisipasi risiko banjir susulan, ia kini memboyong keluarganya untuk mengungsi sementara ke rumah kerabat.