SINGAPURA — Pemerintah Singapura meluncurkan kampanye literasi nasional ReadSG dengan target menjangkau 150 ribu warga untuk membangun kebiasaan membaca sedikitnya 15 menit setiap hari hingga September 2027.
Program yang digagas National Library Board (NLB) tersebut diluncurkan Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam di National Library Building, kawasan Bugis, Minggu (6/9/2026). ReadSG dirancang sebagai gerakan jangka panjang selama lima tahun untuk mendorong membaca kembali menjadi bagian dari rutinitas masyarakat.
Tharman menilai perubahan kebiasaan tidak bisa dilakukan secara instan. Menurut dia, kampanye literasi membutuhkan konsistensi dan waktu agar dampaknya dapat dirasakan oleh berbagai kelompok usia.
“Jika kita ingin memberikan dampak kepada masyarakat secara luas, baik anak muda, kelompok usia paruh baya maupun lansia, kita harus bersedia bersabar karena kebiasaan terbentuk secara perlahan,” ujar Tharman.
Ia menyebut periode lima tahun relatif singkat untuk mengubah pola hidup masyarakat. Namun, rentang tersebut dinilai cukup realistis untuk mendorong perubahan budaya membaca secara bertahap.
Chief Executive NLB Melissa Tam mengatakan angka 15 menit dipilih agar kebiasaan membaca lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Waktu tersebut dapat dimanfaatkan warga di sela-sela aktivitas, termasuk ketika menggunakan transportasi umum, saat istirahat makan siang, maupun sebelum tidur.
Menurut Tam, tantangan terbesar saat ini adalah derasnya arus informasi dan hiburan digital yang membuat masyarakat terbiasa mengonsumsi konten secara cepat.
“Kita hidup di dunia dengan kelimpahan konten, informasi, dan stimulasi yang luar biasa. Kapan pun kita bisa menggulir ratusan judul berita, menonton video, atau mendapatkan rangkuman tentang hampir semua hal,” kata Tam.
Di tengah kondisi tersebut, NLB menilai membaca teks panjang tetap memiliki peran penting dalam membangun kemampuan berpikir kritis, imajinasi, empati, dan konsentrasi.
Untuk mendorong partisipasi, NLB meluncurkan ReadSG Challenge melalui platform pemerintah CrowdTask SG. Warga dapat mencatat waktu membaca setiap hari, mempertahankan *reading streak*, serta mengumpulkan poin dan koin virtual yang nantinya dapat ditukarkan dengan sejumlah hadiah.
Program tersebut masih dalam tahap uji coba hingga 31 Desember 2026. Masa tersebut digunakan untuk menghimpun masukan dari pengguna sebelum fitur ReadSG Challenge disempurnakan.
NLB juga menyiapkan suvenir edisi terbatas bagi peserta yang aktif mengikuti berbagai kegiatan literasi selama September hingga November 2026.
Selain tantangan membaca, NLB membuka akses buku digital melalui program Get It Now. Mulai September 2026 hingga Maret 2027, satu judul buku populer akan tersedia secara gratis tanpa antrean melalui aplikasi Libby pada Jumat pertama setiap bulan.
Peluncuran ReadSG sekaligus menandai dimulainya National Reading Month. Sejumlah agenda literasi disiapkan, antara lain Readers Assemble: A Marvel Festival, Time of Your Life Celebration, dan A Book A Day.
Gerakan tersebut juga dikaitkan dengan misi sosial melalui program Read for Good. Dalam program yang berlangsung 6 September hingga 7 Oktober 2026 itu, setiap menit yang digunakan warga untuk membaca akan dikonversikan menjadi dukungan bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan.
NLB menargetkan total waktu membaca masyarakat mencapai 7,5 juta menit. Jika target tersebut tercapai, donasi sebesar 150 ribu dolar Singapura akan disalurkan kepada sekitar 10 ribu penerima manfaat dari kelompok rentan.
Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung berbagai program bantuan literasi, termasuk penyediaan alat bantu belajar dan buku bagi sejumlah lembaga, seperti kidsREAD, MINDS, dan Preschool Market.
Kampanye ReadSG turut melibatkan lebih dari 40 instansi dan organisasi. Dukungan datang antara lain dari Kementerian Pendidikan Singapura, Early Childhood Development Agency (ECDA), Agency for Integrated Care (AIC), SPH Media, hingga Mediacorp.
Chief Executive ECDA Ku Geok Boon mengatakan kolaborasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendorong orang tua membangun kebiasaan membaca bersama anak sejak usia dini. Aktivitas tersebut dinilai dapat membantu mengembangkan fokus dan imajinasi anak.
Sementara itu, Chief Executive AIC Tan Chee Wee mendorong keterlibatan kelompok lanjut usia melalui jaringan Active Ageing Centres. Fasilitas tersebut menjadi salah satu jalur untuk mengajak lansia tetap aktif dalam kegiatan membaca.
Dukungan juga datang dari komunitas literasi. Pendiri Saturday Book Club Lee Jia Li menilai komitmen membaca selama 15 menit sehari dapat menjadi langkah awal untuk menghilangkan anggapan bahwa membaca merupakan aktivitas yang berat dan sulit dilakukan.
Ia juga berharap ruang baca dapat semakin mudah ditemui di ruang publik, dengan mencontoh praktik di sejumlah negara seperti Korea Selatan dan Jepang yang menghadirkan fasilitas membaca di berbagai tempat, termasuk taman, kereta, dan kafe.
NLB menegaskan ReadSG bukan program literasi yang hanya berlangsung sesaat. Kampanye tersebut diarahkan untuk membentuk kebiasaan membaca yang bertahan dalam jangka panjang.
“ReadSG dirancang sebagai gerakan jangka panjang, bukan sekadar kampanye sesaat agar masyarakat membaca satu buku semata,” kata Melissa Tam.
Melalui kampanye tersebut, NLB menargetkan aktivitas membaca tidak berhenti sebagai kegiatan tambahan, tetapi berkembang menjadi kebiasaan harian yang melekat dalam kehidupan masyarakat Singapura.