JAKARTA — PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menyiapkan perluasan jaringan KRL Commuter Line Jabodetabek hingga Cikampek di sisi timur dan Cigombong, Bogor, di sisi selatan. Pengembangan ini ditargetkan rampung pada 2028 untuk mendukung peningkatan kapasitas angkutan hingga 2 juta penumpang per hari.
Rencana tersebut disampaikan Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).
Pada lintas Bekasi atau Blue Line, KAI akan melanjutkan elektrifikasi dari Stasiun Cikarang menuju Cikampek. Jalur tersebut memiliki panjang sekitar 42 kilometer yang akan dilengkapi dengan elektrifikasi untuk mendukung operasional KRL.
“Dari Cikarang itu kita extend sampai Cikampek, itu ada sekitar 42 kilo lagi ke sananya,” ujar Bobby.
Sementara itu, pengembangan juga dilakukan pada lintas Bogor atau Red Line. Jalur KRL yang saat ini berakhir di Stasiun Bogor direncanakan diperpanjang hingga kawasan Lido, Cigombong.
Perluasan jaringan tersebut menjadi bagian dari upaya KAI meningkatkan kapasitas angkutan KRL Jabodetabek yang terus mengalami pertumbuhan. Sepanjang semester I 2026, jumlah pengguna KRL tercatat meningkat lebih dari 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Saat ini, rata-rata jumlah penumpang KRL Jabodetabek mencapai sekitar 1,1 juta orang per hari. Pada periode dengan kepadatan tinggi, jumlah tersebut dapat meningkat hingga sekitar 1,3 juta penumpang per hari.
KAI melihat kapasitas tersebut masih dapat dikembangkan mengingat besarnya aktivitas mobilitas masyarakat di kawasan Jabodetabek. Berdasarkan data yang dipaparkan KAI, kawasan tersebut dihuni sekitar 31,8 juta penduduk dengan total pergerakan mencapai sekitar 48 juta perjalanan setiap hari.
Namun, kontribusi KRL terhadap mobilitas harian tersebut masih sekitar 3 persen. Pergerakan masyarakat masih didominasi kendaraan pribadi, dengan sepeda motor mencapai 45 persen, mobil pribadi 36 persen, dan bus sekitar 16 persen.
Untuk meningkatkan penggunaan transportasi berbasis rel, KAI tidak hanya mengandalkan perluasan jalur. Sejumlah infrastruktur pendukung juga disiapkan, mulai dari peningkatan kapasitas gardu traksi (GT), listrik aliran atas (LAA), modernisasi sistem persinyalan, hingga penambahan fasilitas depo dan stabling.
Perpanjangan peron di sejumlah stasiun juga menjadi bagian dari pengembangan agar fasilitas dapat menyesuaikan dengan kebutuhan pengoperasian rangkaian kereta berkapasitas lebih besar.
Peningkatan infrastruktur kelistrikan dan persinyalan tersebut juga ditujukan untuk memperpendek jarak waktu kedatangan antarkereta atau headway. KAI menargetkan waktu tunggu antarkereta yang saat ini masih berkisar 10-15 menit dapat ditekan menjadi sekitar 4-5 menit.
“Yang sekarang headway-nya itu 10-15 menit, itu akan kita kurangi menjadi 4 sampai 5 menit,” kata Bobby.
Selain memperpendek headway, KAI menyiapkan pengoperasian rangkaian dengan formasi 12 kereta atau SF12 secara lebih luas. Penambahan daya listrik menjadi salah satu prasyarat agar rangkaian dengan kapasitas lebih besar tersebut dapat dioperasikan secara optimal.
Penguatan kapasitas juga dilakukan di lintas Rangkasbitung atau Green Line. Sepanjang 2026, KAI memasang lima gardu traksi baru dan meningkatkan kapasitas sembilan gardu yang sudah beroperasi.
Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung pengoperasian seluruh perjalanan KRL lintas Rangkasbitung menggunakan rangkaian SF12 mulai semester I 2027.
Saat ini, keterbatasan pasokan daya membuat rangkaian yang digunakan di lintas tersebut masih terdiri dari kombinasi SF8 dan SF10. Dengan peningkatan kapasitas kelistrikan, KAI menargetkan seluruh perjalanan dapat menggunakan rangkaian SF12.
Meski kapasitas lintas Rangkasbitung akan ditingkatkan, KAI belum merencanakan perpanjangan jalur KRL dari Rangkasbitung menuju Serang maupun Pandeglang dalam waktu dekat. Pengembangan saat ini difokuskan pada optimalisasi kapasitas dan layanan hingga Rangkasbitung.
Secara keseluruhan, pengembangan KRL Jabodetabek disusun dalam peta jalan tiga tahap hingga 2040. Tahap pertama pada 2026-2027 difokuskan pada sejumlah proyek percepatan atau quick win.
Program tersebut meliputi pemasangan Automatic Train Protection (ATP), penambahan area stabling dan depo, peningkatan daya gardu traksi serta LAA, hingga perpanjangan peron stasiun.
Tahap kedua berlangsung pada 2028-2030. Pada fase ini, KAI menargetkan penerapan sistem ATP secara lebih menyeluruh, modernisasi persinyalan dan telekomunikasi, pembangunan depo baru, peningkatan LAA, serta elektrifikasi jalur yang masuk dalam rencana ekspansi.
Sementara tahap ketiga pada 2031-2040 diarahkan pada revitalisasi dan modernisasi jaringan gardu traksi serta LAA secara menyeluruh. Tahap ini juga mencakup peremajaan sarana dan pengembangan sistem yang terintegrasi.
Pengembangan tersebut difokuskan pada tiga lintas utama dengan tingkat kepadatan penumpang tinggi, yakni Red Line, Blue Line, dan Green Line.
Dengan berbagai penguatan tersebut, KAI menargetkan kapasitas angkutan KRL Jabodetabek dapat terus meningkat hingga mencapai 2 juta penumpang per hari. Perluasan jalur menuju Cikampek dan Cigombong menjadi salah satu bagian penting dari target tersebut.
Bobby memastikan pengembangan jalur yang direncanakan akan berjalan sesuai target. “Iya, 2028 harusnya sudah selesai,” pungkasnya.