JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada sesi pertama perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (14/10/2026), meski tekanan geopolitik global masih membayangi pergerakan pasar saham domestik.
IHSG naik 48,31 poin atau 0,82 persen ke level 5.974,29 pada sesi pertama perdagangan, sedangkan indeks LQ45 menguat 7,33 poin atau 1,24 persen menjadi 596,52.
Penguatan tersebut menjadi angin segar setelah IHSG mengakhiri perdagangan Selasa (13/10/2026) di zona merah pada level 5.925,97, terkoreksi 10,171 poin atau 0,17 persen.
Meski kembali menghijau, pelaku pasar masih perlu mewaspadai sejumlah risiko eksternal yang berpotensi membatasi penguatan indeks hingga penutupan perdagangan.
Tim Analis Phintraco menilai ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih menjadi salah satu sumber sentimen negatif bagi pasar saham Indonesia.
“Sentimen negatif masih berasal dari memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah,” kata Tim Analis Phintraco, dalam analisisnya, Rabu (14/10/2026).
IHSG Diperkirakan Bergerak di Kisaran 5.800–6.000
Secara teknikal, Phintraco memperkirakan IHSG bergerak mendatar atau sideways sepanjang perdagangan hari ini, terutama selama indeks belum mampu menembus level psikologis 6.000.
“Secara teknikal, IHSG hari ini diprakirakan akan bergerak sideways (stagnan) pada kisaran 5.800-6.000. Prakiraan ini berlaku selama IHSG ditutup di bawah level 6.000,” ujar Tim Phintraco.
Rentang tersebut menunjukkan bahwa pergerakan IHSG masih menghadapi tantangan untuk melanjutkan pemulihan, meskipun indeks sempat menguat pada paruh pertama perdagangan.
Harga Minyak Masih Tinggi di Tengah Konflik
Ketegangan di Timur Tengah turut menjaga harga minyak dunia pada level tinggi dan meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Harga minyak mentah Brent tercatat turun, tetapi masih berada di level USD105,69 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,4 persen menjadi USD94,14 per barel.
Pergerakan harga energi menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi prospek inflasi, biaya produksi, serta ekspektasi kebijakan moneter di berbagai negara.
Investor Menanti Data Inflasi Amerika Serikat
Selain risiko geopolitik, perhatian investor global tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) periode September yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Indeks Harga Konsumen (IHK) AS diperkirakan meningkat 0,6 persen secara bulanan dan 3,7 persen secara tahunan, sedangkan inflasi inti diproyeksikan mencapai 0,2 persen secara bulanan dan 2,5 persen secara tahunan.
“Inflasi yang lebih tinggi akan meningkatkan peluang bagi the Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan ini,” ucap Tim Phintraco.
The Fed dijadwalkan menggelar pertemuan kebijakan pada 27–28 Oktober 2026, sehingga data inflasi tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi investor terhadap arah suku bunga AS.
Apabila inflasi tercatat lebih tinggi dari perkiraan, peluang pengetatan kebijakan moneter dapat meningkat dan memicu kehati-hatian investor terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang.
Isu MSCI dan Aliran Dana Asing Jadi Perhatian
Dari dalam negeri, perkembangan terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan potensi dampaknya terhadap saham Indonesia juga menjadi faktor yang dicermati pelaku pasar.
Pada perdagangan Selasa (13/10/2026), investor asing tercatat membukukan beli bersih atau net buy sebesar Rp5,89 miliar meskipun IHSG berakhir melemah.
Saham yang paling banyak dibeli investor asing pada perdagangan tersebut meliputi Astra International (ASII), Timah (TINS), Bumi Resources Minerals (BRMS), Bank Central Asia (BBCA), dan Elnusa (ENRG).
Arus dana asing tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor untuk membaca minat terhadap saham domestik di tengah ketidakpastian pasar global.
Dengan kombinasi risiko geopolitik, tingginya harga minyak, ketidakpastian suku bunga AS, dan isu MSCI, pergerakan IHSG selanjutnya akan bergantung pada kekuatan beli investor serta kemampuannya bertahan di atas level-level teknikal penting.***