JAKARTA – Gelombang demonstrasi melanda Prancis, Italia, Belgia, dan Portugal pada Sabtu (17/10/2026). Ratusan ribu warga turun ke jalan memprotes kenaikan biaya hidup, mahalnya harga perumahan, serta buruknya layanan publik. Sejumlah aksi berujung bentrokan dengan aparat, perusakan fasilitas umum, hingga penjarahan toko.
Aksi tersebut berlangsung di tengah tekanan ekonomi yang kian membebani masyarakat Eropa. Data Eurostat yang dirilis Jumat (16/10/2026) mencatat inflasi tahunan kawasan euro mencapai 3,8 persen pada September 2026, naik dari 3,2 persen pada Agustus 2026 dan 2,2 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan harga, terutama di sektor energi, turut menekan daya beli masyarakat. Beban pengeluaran rumah tangga semakin berat karena harus menghadapi mahalnya kebutuhan pokok, transportasi, pendidikan, dan tempat tinggal.
Di tengah situasi tersebut, Prancis menjadi salah satu titik utama demonstrasi. Berdasarkan laporan Associated Press, sekitar 550 ribu hingga 800 ribu orang mengikuti aksi di sedikitnya 110 lokasi, termasuk Paris, Lyon, Marseille, Bordeaux, dan Limoges.
Demonstrasi yang melibatkan pelajar, mahasiswa, dan serikat pekerja itu awalnya menyoroti persoalan pendidikan, mulai dari kebutuhan perbaikan fasilitas sekolah hingga kekurangan guru. Namun, tuntutan massa kemudian meluas ke persoalan keadilan sosial dan tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Di Paris, demonstrasi berubah menjadi bentrokan ketika sejumlah orang melemparkan benda keras ke arah polisi. Aparat merespons dengan menyemprotkan meriam air dan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.
Kericuhan juga diwarnai pembakaran kendaraan dan penjarahan toko. Pihak berwenang Prancis mengonfirmasi sedikitnya 400 orang ditangkap dalam rangkaian aksi tersebut.
Penggunaan alat pengendali massa turut menjadi sorotan setelah seorang demonstran muda di Saint-Étienne mengalami cedera serius pada tangannya. Insiden itu menambah perhatian publik terhadap tindakan aparat dalam menangani demonstrasi.
Demonstrasi di Italia Berujung Penjarahan
Kerusuhan juga terjadi di Italia, ketika demonstrasi menentang perang dan kenaikan biaya hidup di Milan berujung ricuh. Sejumlah demonstran bertopeng dilaporkan melemparkan batu, membakar barikade yang dibuat dari meja restoran, serta menjarah toko di kawasan pusat perbelanjaan.
Bentrokan berlangsung di sekitar Piazza del Duomo, salah satu kawasan bersejarah di Milan. Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.
Sedikitnya dua anggota polisi dilaporkan terluka, sementara sekitar 50 demonstran, termasuk anak di bawah umur, ditahan. Kerusuhan serupa juga dilaporkan terjadi di Bologna.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengecam aksi kekerasan dan perusakan yang terjadi di tengah demonstrasi tersebut.
“Kebebasan berpendapat tidak membenarkan penyerangan, penjarahan, maupun perusakan,” tegas Meloni.
Wali Kota Milan Giuseppe Sala juga menyampaikan kecaman terhadap kekerasan. Meski demikian, ia mengakui persoalan ekonomi yang mendorong masyarakat turun ke jalan tetap perlu mendapat perhatian pemerintah.
Mahasiswa Belgia Protes Biaya Pendidikan
Di Belgia, demonstrasi berlangsung di Brussels dan Liège. Kalangan mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang menyuarakan penolakan terhadap kenaikan biaya pendidikan serta reformasi akses ke perguruan tinggi.
Di Brussels, ratusan demonstran, sebagian di antaranya menutupi wajah, terlibat bentrokan dengan polisi. Situasi memanas hingga sebuah mobil dilaporkan dibalikkan.
Aparat kemudian menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa. Pemerintah Belgia menegaskan akan mengambil langkah untuk memulihkan ketertiban.
Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin menyatakan aparat akan bertindak tegas dalam menangani kerusuhan. Namun, demonstrasi tersebut juga memperlihatkan tekanan yang dihadapi generasi muda dalam mengakses pendidikan di tengah meningkatnya biaya hidup.
Harga Rumah Portugal Naik Lebih dari Dua Kali Lipat
Sementara itu, puluhan ribu warga Portugal memadati jalan-jalan di Lisbon untuk memprotes mahalnya biaya hidup, terutama harga perumahan yang dinilai tidak sebanding dengan tingkat upah.
Aksi tersebut diorganisasi oleh serikat pekerja CGTP. Kenaikan harga rumah dan biaya sewa menjadi salah satu persoalan utama yang disuarakan demonstran.
Data yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan harga rumah di Portugal telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2017. Sementara itu, biaya sewa untuk kontrak baru juga melonjak hingga hampir dua kali lipat.
Tekanan tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat, termasuk kalangan profesional muda dan mahasiswa yang tinggal di Lisbon.
Carolina Cruz (26), peneliti biologi yang sedang menempuh studi doktoral di kota itu, mengungkapkan kesulitan mengatur keuangan di tengah tingginya biaya sewa.
Dengan beasiswa sebesar 1.300 euro per bulan, Cruz harus membayar sewa apartemen sebesar 716 euro bersama pasangannya. Beban tersebut berpotensi meningkat ketika kontrak tempat tinggal mereka diperpanjang.
“Sewa baru tersebut jauh melampaui kemampuan kami,” ungkap Cruz.
Kondisi itu menggambarkan besarnya porsi pendapatan yang harus dialokasikan untuk tempat tinggal. Bagi warga dengan penghasilan terbatas, kenaikan sewa semakin mempersempit ruang untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Persoalan Ekonomi Jadi Pemicu Ketidakpuasan
Meski demonstrasi berlangsung hampir bersamaan di empat negara, aksi tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya satu gerakan terorganisasi yang sama.
Profesor hukum dan kebijakan Uni Eropa di HEC Paris, Alberto Alemanno, menilai Prancis menjadi salah satu pusat utama gelombang ketidakpuasan publik yang berkembang di Eropa.
Menurut Alemanno, terdapat sejumlah persoalan yang menjadi benang merah demonstrasi, terutama tekanan biaya hidup, keterbatasan pendanaan pendidikan, dan ketidakpastian masa depan generasi muda.
“Ini bukan gerakan tunggal, tetapi ada persoalan bersama yang mendorong ketidakpuasan: kurangnya pendanaan pendidikan, naiknya biaya hidup, dan ketidakpastian masa depan generasi muda,” jelas Alemanno.
Rangkaian demonstrasi tersebut menempatkan pemerintah di masing-masing negara dalam situasi sulit. Di satu sisi, aparat harus menangani bentrokan dan tindakan perusakan. Di sisi lain, pemerintah menghadapi tuntutan untuk merespons persoalan ekonomi yang menjadi sumber ketidakpuasan masyarakat.
Tekanan tersebut juga berlangsung menjelang agenda politik penting di Eropa, termasuk Pemilihan Presiden Prancis 2027.
Perkembangan situasi ini menunjukkan bahwa kenaikan biaya hidup tidak hanya menjadi persoalan ekonomi rumah tangga, tetapi juga memicu tuntutan sosial dan politik. Pemerintah di kawasan tersebut kini menghadapi tantangan untuk menjaga ketertiban sekaligus merespons keresahan masyarakat melalui kebijakan yang menyentuh persoalan pendidikan, perumahan, dan daya beli.