OGAN KOMERING ILIR – Selama berbulan-bulan, petugas BPBD Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Irwan Sandi, terus berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) demi mencegah api meluas.
Sejak Juni 2026, Irwan bersama tim gabungan telah bertugas di Desa Cengal, OKI, dan masih menjalankan misi pemadaman hingga Oktober.
Pengabdian tersebut menuntut kesiapan fisik, kedisiplinan, serta keberanian menghadapi medan kebakaran yang tidak mudah dijangkau.
Sebelum berangkat ke lokasi, Irwan selalu memeriksa alat pelindung diri (APD), mulai dari helm, masker, hingga sepatu bot, sebelum memastikan perlengkapan pemadaman dan kesiapan personel.
“Kalau persiapan untuk APD-nya mulai dari helm, masker, hingga sepatu boots. Sesudah itu baru peralatan. Menyusun personel, persiapan personel, setelah lengkap, mulai berangkat,“ kata Irwan ditemui sebelum memulai aktivitas memadamkan api.
Irwan telah menjadi bagian dari BPBD OKI sejak 2018 dan kini menjalani pengalaman penanganan karhutla untuk keempat kalinya.
“Pada 2018, 2021, 2023, dan sekarang terjadi di 2026,” kata Irwan.
Berdasarkan pengalamannya, pemadaman langsung di lapangan menjadi langkah penting, terutama untuk menangani kebakaran di kawasan gambut yang menyimpan bara di bawah permukaan tanah.
“Kalau tanah mineral tidak memerlukan upaya lebih untuk pemadaman. Hanya perlu disiram dan langsung padam. Berbeda halnya di lahan gambut, ada teknik khusus untuk pemadamannya agar tidak menjalar ke lahan yang belum terbakar,” kata Irwan.
Ia menjelaskan, kebakaran gambut membutuhkan penanganan khusus karena api dapat bertahan di dalam tanah dan kembali menyala meski permukaan terlihat sudah padam.
Menurut Irwan, penyiraman dari udara melalui metode water bombing tidak cukup untuk mengatasi sumber api yang berada jauh di dalam lapisan gambut.
Di balik tugas berisiko tersebut, Irwan harus menerima kenyataan sering berjauhan dengan istri dan anak-anaknya demi menjalankan tanggung jawab sebagai petugas penanggulangan bencana.
Keterbatasan sinyal di tengah hutan juga membuat komunikasi dengan keluarga tidak selalu berjalan lancar, sehingga telepon menjadi penghubung ketika jaringan tersedia.
“Pasti (berkomunikasi), tapi kalau ada sinyal. Karena, secara keberadaan saya pasti di dalam hutan,” kata dia.
Untuk mengurangi kekhawatiran keluarganya, Irwan berusaha menjaga komunikasi sekaligus meminta doa agar dapat menjalankan tugas dengan selamat.
“Untuk ibu (istri) di rumah dan anak-anak, doakan Ayah supaya sehat dan selamat dalam bekerja,” ujar dia.
Kisah perjuangan Irwan Sandi menjadi gambaran pengabdian petugas di garis depan penanganan karhutla yang terus menghadapi medan berat sekaligus menahan rindu kepada keluarga.
Kisah lengkapnya dapat disaksikan melalui program Podcast Sinergi Indonesia di kanal YouTube Badan Komunikasi Pemerintah RI.***