JAKARTA – Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026 menjadi momentum pemerintah untuk menegaskan komitmen membangun generasi muda melalui program gizi, pendidikan, digitalisasi sekolah, hingga perluasan kesempatan kerja.
- 1. MBG Jangkau 57,5 Juta Penerima, Target Naik pada 2027
- 2. Sekolah Rakyat Buka Akses Pendidikan bagi Keluarga Miskin
- 3. Revitalisasi Sekolah Diperluas hingga 71.744 Unit
- 4. Digitalisasi Pendidikan Dorong Pembelajaran Interaktif
- 5. Magang Nasional Bantu Lulusan Baru Mendapatkan Pengalaman
- 6. SMK Go Global Bidik 500.000 Talenta hingga 2029
Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pembangunan sumber daya manusia diarahkan sejak usia dini hingga lulusan muda siap memasuki dunia kerja dan bersaing di tingkat internasional.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan, menilai pembentukan karakter menjadi salah satu fondasi penting dalam mempersiapkan pemuda menghadapi tantangan masa depan.
“Negara menempatkan karakter anak muda sebagai titik awal kemajuan. Pemerintah membentuk generasi yang tidak menyerah saat menghadapi kesulitan dan tidak runtuh saat gagal.”
“Negara membuka jalan agar pemuda berani bermimpi setinggi langit dan bekerja sekeras mungkin sampai memberi yang terbaik bagi bangsa,” ujar Syahganda, dalam keterangannya, Rabu (28/10).
Menurut Bakom, komitmen tersebut diwujudkan melalui sejumlah kebijakan yang mencakup pemenuhan kebutuhan dasar anak, pemerataan pendidikan, peningkatan fasilitas belajar, penguatan kompetensi, hingga pembukaan akses pekerjaan.
1. MBG Jangkau 57,5 Juta Penerima, Target Naik pada 2027
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu langkah pemerintah dalam mendukung pertumbuhan anak sekaligus memperkuat kesiapan mereka mengikuti pembelajaran di sekolah.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional per 9 Oktober 2026, program ini telah menjangkau 57,5 juta penerima manfaat melalui 26.385 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Penerima manfaat tersebut terdiri atas 46,2 juta peserta didik, 3,9 juta pendidik dan tenaga kependidikan, serta 7,4 juta kelompok rentan.
Kelompok rentan itu mencakup 4,9 juta balita, 1,8 juta ibu menyusui, dan 700 ribu ibu hamil yang menjadi sasaran dukungan pemenuhan gizi.
Pemerintah menargetkan jumlah penerima MBG meningkat menjadi 72,4 juta orang pada 2027 agar semakin banyak masyarakat memperoleh manfaat program tersebut.
2. Sekolah Rakyat Buka Akses Pendidikan bagi Keluarga Miskin
Pemerataan pendidikan diperkuat melalui Sekolah Rakyat yang dirancang untuk memberikan kesempatan belajar kepada anak-anak dari keluarga miskin.
Hingga 23 September 2026, program tersebut telah beroperasi di 182 lokasi dan melayani sekitar 44.000 siswa, dengan lebih dari 90 lokasi menempati bangunan permanen.
Pemerintah menargetkan jumlah siswa meningkat menjadi lebih dari 150.000 orang pada 2027, sekaligus merencanakan pembangunan 500 Sekolah Rakyat permanen hingga 2029.
Melalui sistem pendidikan berasrama, siswa memperoleh fasilitas belajar, tempat tinggal, serta pemenuhan kebutuhan sehari-hari sehingga keterbatasan ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang untuk bersekolah.
3. Revitalisasi Sekolah Diperluas hingga 71.744 Unit
Peningkatan akses pendidikan juga dibarengi perbaikan fasilitas sekolah agar kegiatan belajar berlangsung lebih aman, nyaman, dan mendukung perkembangan siswa.
Sepanjang 2025, pemerintah telah menyelesaikan revitalisasi terhadap 16.167 sekolah di berbagai wilayah Indonesia.
Sementara itu, program revitalisasi terhadap 11.744 sekolah pada 2026 dilaporkan telah mencapai sekitar 70 persen pelaksanaan.
Atas arahan Presiden Prabowo, pemerintah memperluas target revitalisasi menjadi 71.744 sekolah untuk memperbaiki kualitas infrastruktur pendidikan secara lebih luas.
4. Digitalisasi Pendidikan Dorong Pembelajaran Interaktif
Pemerintah turut mempercepat pemanfaatan teknologi di ruang kelas melalui program digitalisasi pendidikan yang mendukung metode pembelajaran lebih interaktif.
Pada 2025, papan interaktif digital telah didistribusikan ke 288.865 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Pada 2026, pemerintah menargetkan penambahan tiga unit papan interaktif digital di setiap sekolah sehingga empat ruang kelas di masing-masing sekolah dapat dilengkapi perangkat tersebut.
Teknologi ini diharapkan membantu guru menyampaikan materi secara lebih menarik sekaligus memudahkan siswa memahami pelajaran melalui metode pembelajaran yang lebih dinamis.
Pemerataan perangkat digital juga diharapkan memperkecil kesenjangan akses pembelajaran modern antara sekolah di perkotaan dan daerah lainnya.
5. Magang Nasional Bantu Lulusan Baru Mendapatkan Pengalaman
Pemerintah berupaya menjembatani kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan perusahaan melalui Program Magang Nasional yang menyasar lulusan baru.
Program berdurasi enam bulan ini menyediakan uang saku dari negara serta sertifikat kompetensi sebagai bekal peserta untuk memasuki pasar kerja.
Target kepesertaan ditetapkan sebanyak 100.000 orang pada 2025 dan meningkat menjadi 150.000 peserta pada 2026.
Peserta memperoleh uang saku setara upah minimum kabupaten/kota sesuai ketentuan program untuk membantu mereka menjalani masa magang.
Bakom menyebut sekitar 30.000 peserta program magang 2025 telah direkrut menjadi karyawan tetap oleh perusahaan tempat mereka memperoleh pengalaman kerja.
Capaian tersebut menjadi salah satu indikator awal penyerapan peserta, meskipun efektivitas program secara keseluruhan tetap perlu dinilai berdasarkan hasil penempatan kerja dan keberlanjutan karier.
6. SMK Go Global Bidik 500.000 Talenta hingga 2029
Peluang kerja bagi generasi muda juga diarahkan ke pasar internasional melalui program SMK Go Global yang menyiapkan tenaga terampil untuk bekerja di luar negeri melalui jalur legal dan aman.
Sejak pendaftaran dibuka pada 12 Agustus 2026, program tersebut telah menjaring 7.239 peserta dari target 40.000 orang sepanjang tahun ini.
Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan penyiapan 500.000 talenta hingga 2029, yang terdiri atas 300.000 lulusan SMK dan 200.000 masyarakat umum.
Program ini diharapkan memperluas pilihan karier bagi lulusan pendidikan vokasi melalui peningkatan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional.
Pembekalan kompetensi dan persiapan keberangkatan yang memadai juga menjadi faktor penting agar peserta dapat bekerja secara aman serta memiliki daya saing di negara tujuan.
Sumpah Pemuda Jadi Momentum Membangun Masa Depan
Rangkaian kebijakan tersebut menggambarkan pendekatan pembangunan generasi muda yang mencakup berbagai tahapan, mulai dari kesehatan dan pendidikan hingga kesiapan memasuki dunia kerja.
Melalui MBG, Sekolah Rakyat, revitalisasi sekolah, digitalisasi pendidikan, Magang Nasional, dan SMK Go Global, pemerintah berupaya memperluas kesempatan bagi anak muda untuk mengembangkan potensi.
Namun, keberhasilan program-program tersebut akan ditentukan oleh pemerataan pelaksanaan, kualitas layanan, ketepatan sasaran, serta manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
Momentum Hari Sumpah Pemuda 2026 pun menjadi pengingat bahwa pembangunan generasi unggul tidak berhenti pada penyediaan program, tetapi juga membutuhkan hasil terukur yang membuka peluang lebih luas bagi masa depan anak bangsa.***