Impian mengitari samudera dunia dengan hunian terapung mewah mendadak berubah menjadi mimpi buruk. Sekitar 200 penumpang kapal pesiar residensial MV Odyssey milik Villa Vie Residences harus menghadapi kenyataan pahit ketika kapal yang mereka tumpangi mendadak menghentikan seluruh operasionalnya saat bersandar di pelabuhan Sihanoukville, Kamboja, Selasa (27/10/2026).
Tanpa ada peringatan memadai—hanya beberapa jam sebelum instruksi turun kapal diketok—para penghuni yang merogoh kocek hingga miliaran rupiah dipaksa gigit jari akibat perusahaan rintisan asal Florida, Amerika Serikat, itu kehabisan dana untuk membeli bahan bakar.
Badai Konflik Global dan Ledakan Biaya Bahan Bakar
Manajemen Villa Vie Residences tak bisa berbuat banyak di tengah himpitan krisis finansial akut. Lonjakan harga bahan bakar global yang dipicu oleh eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dan terganggunya jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz sejak awal tahun menjadi pukulan mematikan bagi arus kas perusahaan.
Dampaknya terbilang fantastis. Biaya bahan bakar bulanan per kabin di kawasan Asia melonjak drastis dari kisaran 1.800 dollar AS (sekitar Rp32,7 juta) meroket tajam hingga menyentuh 6.000 hingga 8.000 dollar AS (Rp109 juta – Rp145,3 juta).
“Kami tidak bisa begitu saja membebankan kenaikan biaya yang luar biasa besar itu kepada para penghuni,” tulis pernyataan resmi pihak perusahaan.
Pendiri Villa Vie, Mikael Petterson, mengakui bahwa struktur anggaran awal yang disusun sejak 2023 terlalu rapuh untuk menanggung defisit di tengah okupansi kapal yang merosot akibat perang AS-Israel dan Iran. Upaya penyelamatan sempat ditempuh dengan meminta tambahan biaya bahan bakar sebesar 1.500 dollar AS per bulan kepada para penumpang. Namun, 70% penghuni menolak keras pungutan tersebut setelah sebelumnya mereka sudah menyetor dana dalam jumlah masif.
Dari Masalah Tua di Belfast hingga Nasib Bergantung pada Investor
Sejak awal kelahirannya, perjalanan MV Odyssey memang tidak pernah mulus. Kapal berusia 32 tahun itu sempat tertunda keberangkatannya selama berbulan-bulan di Belfast, Irlandia Utara, akibat harus menjalani perbaikan mesin ekstensif agar lolos uji kelaiklautan. Penundaan berkepanjangan ini menguras jutaan dolar dan merusak kepercayaan calon pelanggan.
Kini, nasib operasional kapal sepenuhnya berada di ujung tanduk. Perusahaan memberikan waktu tenggat 60 hari untuk restrukturisasi dan rekapitalisasi bersama tim inti berisi enam orang yang disiagakan di atas kapal. Jika gagal menarik investor baru, kapal berusia senja itu dipastikan akan dilelang untuk melunasi kewajiban kepada para kreditur dan pemilik kabin.
Jeritan Hati Penumpang: Bayar Miliaran, Nikmati Fasilitas Hanya Hitungan Pekan
Penghentian mendadak ini menyisakan luka psikologis dan kerugian finansial mendalam bagi para penumpang yang membeli tiket seumur hidup.
Salah satunya adalah Joel Grieff. Ia merogoh kocek hingga 350.000 dollar AS (sekitar Rp6,35 juta/Rp6,35 miliar) demi memborong paket prabayar seumur hidup bertajuk “Endless Horizons”. Tragisnya, Grieff baru naik ke atas kapal pada 1 Oktober dan hanya sempat menikmati fasilitas mewah tersebut selama 26 hari sebelum kapal disetop.
“Pada dasarnya, saya membayar sekitar 13.461 dollar AS per hari hanya untuk 26 hari pelayaran,” keluh Grieff getir.
Kisah berbeda dialami Dana Teton (71), pensiunan asal Honolulu. Bersama pasangannya, ia memesan kabin seharga 12.000 dollar AS untuk perjalanan lima minggu. Meski rute impian ke Jepang dan Korea Selatan batal total akibat penghematan bahan bakar, ia sempat menikmati rute alternatif di Kepulauan Anambas, Indonesia, sebelum akhirnya terdampar di Kamboja.
Di tengah ketidakpastian, sebagian besar penumpang terpaksa memesan akomodasi hotel secara mandiri di sekitar Sihanoukville. Pihak Villa Vie berencana menyewa pesawat carteran pada pekan depan untuk memulangkan para penumpang ke Amerika Serikat dengan estimasi biaya mandiri sekitar 1.100 dollar AS per orang.