BALI – Perubahan teknologi dan ketidakpastian ekonomi dunia mendorong perguruan tinggi untuk merancang sistem pendidikan bisnis yang lebih adaptif terhadap kebutuhan industri.
Persoalan tersebut menjadi fokus Association of Asia-Pacific Business Schools (AAPBS) Annual Meeting 2026 yang digelar di Discovery Kartika Plaza Hotel, Bali, pada 1–3 November 2026.
Universitas Terbuka (UT) dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan internasional tersebut dengan mengangkat tema “Resilient Business Schools: Strategic Innovation and Leadership in Times of Global Uncertainty”.
Forum ini menjadi wadah bagi institusi pendidikan bisnis untuk membahas strategi menghadapi perubahan global melalui penguatan inovasi, ketahanan organisasi, dan kepemimpinan.
Skala internasional kegiatan terlihat dari kehadiran 64 peserta yang berasal dari lebih 11 negara, termasuk Indonesia, Australia, China, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Taiwan, Thailand, Rusia, Amerika Serikat, dan Inggris.
Selain peserta, kegiatan tersebut melibatkan 20 anggota dewan atau Council Members yang mewakili berbagai institusi pendidikan bisnis.
Pertemuan lintas negara ini membuka kesempatan bagi akademisi untuk bertukar pengalaman sekaligus merumuskan strategi pengembangan pendidikan bisnis yang sesuai dengan tantangan masa depan.
Pendidikan Bisnis Dituntut Lebih Adaptif
Perkembangan dunia usaha membuat sekolah bisnis tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan manajemen dan administrasi perusahaan.
Lulusan perguruan tinggi juga dituntut memiliki kemampuan kepemimpinan adaptif, kreativitas, pemahaman keberlanjutan, serta kecakapan menghadapi perubahan lingkungan bisnis.
Kolaborasi antarperguruan tinggi dinilai penting untuk memperluas wawasan akademik dan menghasilkan pendekatan pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan industri.
Dalam konteks tersebut, UT membawa pengalaman lebih dari empat dekade dalam menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh.
Pengalaman tersebut menjadi modal UT untuk berkontribusi dalam diskusi mengenai pemanfaatan teknologi dan pengembangan model pembelajaran fleksibel di tengah perubahan kebutuhan dunia kerja.
Melalui penyelenggaraan AAPBS Annual Meeting 2026, UT juga memperkenalkan perspektif pendidikan terbuka dan jarak jauh sebagai salah satu pendekatan dalam membangun masa depan pendidikan bisnis.
Hadirkan Pemimpin Akademik dan Tokoh Nasional
Sejumlah akademisi internasional, pimpinan institusi pendidikan bisnis, serta perwakilan pemerintah dijadwalkan mengisi rangkaian kegiatan AAPBS Annual Meeting 2026.
Pada pembukaan acara, forum menghadirkan Rektor UT Prof. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., bersama Prof. Jikyeong Kang selaku President and Dean Asian Institute of Management (AIM) sekaligus President AAPBS.
Turut hadir perwakilan dari Prof. Eric Cornuel yang menjabat Director General & CEO European Foundation for Management Development (EFMD).
Sementara itu, penyampaian keynote address dipercayakan kepada M. Riza Damanik, Ph.D., IPU., Deputi Bidang Usaha Mikro pada Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Republik Indonesia.
Adapun sesi closing keynote akan menghadirkan Prof. Dominique Turpin, President Emeritus China Europe International Business School (CEIBS).
Tiga Agenda Utama AAPBS Annual Meeting 2026
Pembahasan dalam pertemuan internasional ini dirancang melalui tiga tema strategis yang berkaitan dengan keberlanjutan usaha, ketidakpastian ekonomi, dan transformasi sekolah bisnis.
1. Business Empowerment & Sustainability
Sesi pertama membahas kontribusi institusi pendidikan bisnis dalam memperkuat dunia usaha sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan.
Sejumlah pembicara yang dijadwalkan hadir meliputi Samsul Widodo, Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal.
Diskusi ini juga menghadirkan Prof. Xianjun Geng, Dean C. T. Bauer College of Business, University of Houston.
Nama lainnya adalah Tantowi Yahya, President United in Diversity Foundation sekaligus President Commissioner Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali.
2. Business Environment Uncertainty
Agenda kedua menyoroti strategi menghadapi ketidakpastian lingkungan usaha serta perubahan ekonomi yang memengaruhi dunia industri dan pendidikan tinggi.
Pembahasan menghadirkan I Made Ariandi selaku Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) Provinsi Bali.
Selain itu, terdapat Prof. Benny Tjahjono, pakar keberlanjutan dan manajemen rantai pasok dari Coventry University.
Forum ini juga menghadirkan Prof. Hiroshi Nakamura, Dean Keio Business School, Keio University.
3. The Future of Business School
Sesi ketiga mengupas arah perkembangan sekolah bisnis, mulai dari pembaruan kurikulum, metode pembelajaran, penelitian akademik, hingga penguatan kepemimpinan.
Pembicara yang dijadwalkan mengisi sesi ini antara lain Prof. Ir. Tian Belawati, M.Ed., Ph.D., mantan Rektor Universitas Terbuka.
Turut hadir Prof. Valery Katkalo, Director Graduate School of Business HSE University.
Diskusi juga melibatkan Prof. Mei H.C. Ho, Associate Dean National Taiwan University of Science and Technology.
UT Bidik Kerja Sama Akademik Internasional
Bagi Universitas Terbuka, penyelenggaraan AAPBS Annual Meeting 2026 bukan sekadar menjadi tuan rumah pertemuan akademik berskala internasional.
Forum tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperluas jaringan kelembagaan dan menjajaki kolaborasi penelitian dengan sekolah bisnis dari berbagai negara.
Pertukaran gagasan antarnegara diharapkan dapat memperkaya perspektif perguruan tinggi Indonesia dalam menghadapi perubahan industri dan kebutuhan kompetensi tenaga kerja masa depan.
Melalui forum ini, UT berupaya memperkuat kontribusi pendidikan tinggi Indonesia dalam pengembangan sekolah bisnis yang inovatif, tangguh, dan mampu merespons dinamika ekonomi global.***