RIAU – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan konsep prasmanan mulai diuji coba di Kota Pekanbaru, Riau. Sebanyak 50 hingga 70 siswa sekolah dasar (SD) akan menjadi sasaran awal penerapan pola penyajian makanan yang dirancang untuk membangun kebiasaan makan sehat sekaligus melatih interaksi sosial anak.
Uji coba atau piloting yang diprakarsai Badan Gizi Nasional (BGN) tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin (9/11/2026) di SD Islam Unggul Asy-Syakirin. Pekanbaru menjadi daerah pertama di Provinsi Riau yang ditunjuk untuk menjalankan model pelayanan MBG tersebut.
Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Riau, Ranto, membenarkan penunjukan Kota Pekanbaru sebagai lokasi uji coba. Dia menyebut pelaksanaan program prasmanan tersebut dilakukan secara serentak di sejumlah daerah di Indonesia.
“Badan Gizi Nasional akan secara serentak melaksanakan piloting pelayanan pemberian makanan bergizi dengan konsep prasmanan. Kita patut bersyukur, untuk wilayah Provinsi Riau, Kota Pekanbaru ditunjuk menjadi pilot project-nya,” ujar Ranto di Kantor Gubernur Riau, Jumat (6/11/2026).
Menurut Ranto, uji coba tahap awal sengaja dilakukan dalam skala terbatas. BGN ingin melihat penerapan sistem prasmanan di lingkungan sekolah dengan melibatkan dua rombongan belajar atau sekitar 50 hingga 70 siswa.
Jenjang sekolah dasar dipilih karena menjadi salah satu fase penting dalam membentuk kebiasaan anak, termasuk dalam mengenali dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.
“Untuk piloting ini target sasaran dibatasi untuk dua kelas penerima manfaat dengan jumlah siswa berkisar antara 50 hingga 70 orang. Lokasi terpilih yaitu pada jenjang sekolah dasar, tepatnya di SD Islam Unggul Asy-Syakirin,” kata Ranto.
Berbeda dengan pola pembagian makanan yang selama ini diterapkan, konsep prasmanan memberikan pengalaman makan bersama bagi para siswa. Melalui pendekatan tersebut, anak-anak diharapkan tidak hanya mendapatkan asupan makanan bergizi, tetapi juga terbiasa berinteraksi dan membangun komunikasi dengan teman sebaya.
Model ini juga diarahkan untuk mengurangi kebiasaan anak memilih-milih makanan atau picky eating. Salah satu pendekatan yang diharapkan memberi pengaruh positif adalah kebiasaan makan bersama, sehingga siswa yang semula kurang menyukai jenis makanan tertentu bisa terdorong untuk mencobanya setelah melihat teman-temannya mengonsumsi makanan tersebut.
“Melalui konsep makan bersama ini, anak-anak dapat membangun komunikasi yang baik dan mendapatkan pengalaman sosial yang positif di sekolah,” tutur Ranto.
Selain mengubah pola penyajian makanan, uji coba MBG prasmanan juga akan dipadukan dengan edukasi gizi di lingkungan sekolah. Dalam pelaksanaannya, guru dilibatkan untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya mengonsumsi makanan yang beragam dan memiliki kandungan gizi seimbang.
Edukasi tersebut diharapkan dapat membantu anak memahami manfaat makanan sehat, termasuk sayuran yang selama ini kerap kurang diminati sebagian siswa.
Ranto mengatakan, pendekatan melalui interaksi antarsiswa dan pendampingan tenaga pendidik menjadi bagian dari konsep yang diterapkan dalam uji coba tersebut.
“Anak-anak yang tadinya kurang menyukai sayur atau memiliki kebiasaan memilih makanan menjadi lebih termotivasi saat makan bersama teman-temannya. Dalam pelaksanaannya juga diisi dengan edukasi gizi yang diberikan langsung oleh tenaga pendidik atau bapak-ibu guru di sekolah,” pungkasnya.