JAKARTA – Angkatan Udara Yordania pada hari Selasa melakukan operasi udara besar-besaran guna mengirimkan bantuan medis untuk warga Gaza, sebagai bagian dari kesepakatan yang didorong oleh AS untuk mempercepat pengiriman pasokan setelah gencatan senjata.
Operasi ini melibatkan 16 penerbangan helikopter setiap hari yang pada awalnya akan mengirimkan sedikitnya 160 ton pasokan medis penyelamat jiwa dalam waktu satu minggu ke rumah sakit dan pusat medis, kata pejabat militer.
Berdasarkan kesepakatan yang disponsori oleh AS, Israel telah memberikan izin kepada Yordania untuk mengirimkan bantuan ke lokasi yang ditentukan dekat dengan perbatasan Israel di titik Kissufim, yang berbatasan dengan Jalur Gaza yang porak-poranda.
Helipad yang terletak di area sentral yang menghubungkan bagian utara dan selatan Gaza diperkirakan akan mempercepat pengiriman, menurut para pejabat bantuan.
Agen-agen PBB yang dipimpin oleh Program Pangan Dunia (WFP) akan mengirimkan bantuan tersebut langsung ke rumah sakit dan pusat medis.
“Masyarakat Palestina di Gaza membutuhkan lebih banyak bantuan. Ada kondisi kehancuran yang mengerikan. Ada kondisi penderitaan yang mengerikan yang dialami oleh rakyat Palestina,” kata Menteri Negara untuk Komunikasi Yordania, Mohamed Momani, kepada wartawan di pangkalan udara tempat helikopter Black Hawk lepas landas, dilansir dari Reuters.
Selama perang yang berlangsung 15 bulan, PBB telah menggambarkan operasi kemanusiaannya sebagai upaya yang terhambat – menghadapi masalah akibat operasi militer Israel, pembatasan akses oleh Israel, dan lebih baru lagi, perampokan yang dilakukan oleh geng bersenjata di Gaza.
Sejak kesepakatan gencatan senjata, Yordania telah mengirimkan tujuh konvoi darat dengan setidaknya 540 truk melalui koridor yang melintasi Tepi Barat yang diduduki Israel menuju Gaza, kata para pejabat.
“Dalam koridor udara ini, kami mengirimkan bantuan mendesak yang bisa rusak jika diangkut menggunakan truk,” kata Brigadir Jenderal Mustafa al-Hayari.
Sebagai sekutu kuat AS, Yordania telah mengatur setidaknya 147 konvoi yang terdiri dari 5.569 truk sejak dimulainya konflik, dan juga memimpin 391 penurunan bantuan udara dengan bantuan angkatan udara negara-negara Barat dan Arab.
Raja Abdullah telah mendesak Washington untuk menekan Israel agar memperluas koridor bantuan dari Yordania, guna memungkinkan pengiriman bantuan dalam jumlah besar dengan cepat.
Raja juga menyatakan bahwa Israel bertanggung jawab atas keterlambatan bantuan akibat hambatan dan taktik penundaan yang memperburuk penderitaan kemanusiaan bagi lebih dari 2 juta orang yang tinggal di Gaza. Israel membantah tuduhan tersebut dan mengatakan tidak menghalangi aliran bantuan.