KEDIRI – Banjir bandang yang terjadi pada Rabu (29/1) petang di Desa Pranggung, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menyebabkan kerugian besar bagi petani ikan hias koi setempat. Ribuan ekor ikan koi milik para petani hanyut dalam bencana tersebut, dengan nilai kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Fariz (35), salah satu petani ikan koi, mengungkapkan bahwa dirinya kehilangan 15.000 ekor ikan koi setelah tiga dari lima kolam pembesarannya jebol diterjang banjir. “Kerugian saya sekitar Rp 15 juta. Banjirnya sore hari,” ujar Fariz, Kamis (30/1).
Ia menambahkan, kerugian tersebut hanya menghitung ikan yang hilang. Biaya perbaikan kolam yang rusak akan memperbesar total kerugian. “Ikan bisa dicari lagi. Kalau kolam, harus bikin lagi dari nol dan biayanya tidak sedikit,” ungkap pemilik Farizen Koi Farm itu.
Senada dengan Fariz, Dadang Hariyanto, petani ikan lainnya, mengalami kerugian yang lebih besar. Ikan koi siap jual yang ada di kolamnya habis tersapu banjir. “Padahal minggu depan rencananya sudah panen itu,” kata Dadang, seperti dilansir dari Kompas. Kerugian yang dialaminya diperkirakan mencapai lebih dari Rp50 juta, mengingat ikan-ikan tersebut telah terpilih sesuai ukuran dan warna untuk dijual.
Bencana ini juga berdampak pada sekitar 20 peternak lainnya di kawasan tersebut, yang turut mengalami kerugian besar. Total kerugian di sentra perikanan ini diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Menurut Fariz dan Dadang, banjir bandang ini merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Mereka menduga bahwa perubahan vegetasi di lereng Gunung Kelud, yang beralih dari tanaman kayu ke jenis tanaman lain, mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Mereka berharap pemerintah segera mengambil tindakan untuk mengatasi permasalahan ini, termasuk dengan menetapkan aturan penanaman pohon di lereng gunung dan menata ulang saluran air yang ada.
“Sebagai dampaknya, kami ini yang tinggal di hilir. Bukan hanya kami yang ternak ikan, tetapi pertanian juga terdampak,” pungkas Dadang.