Industri ponsel pintar dunia sedang tidak baik-baik saja. Laporan terbaru dari dua firma riset raksasa, IDC dan Counterpoint, menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: pengiriman smartphone global merosot hingga 4,1% – 6% secara tahunan (YoY) pada awal 2026.
Biang keroknya adalah kelangkaan chip memori global yang memicu lonjakan harga produksi dan kendala logistik. Para vendor kini terjepit antara mempertahankan margin keuntungan atau mengejar volume pengiriman.
Dominasi Dua Raja: Strategi “Tahan Harga”
Di tengah badai ini, Samsung dan Apple membuktikan bahwa dominasi di segmen premium adalah benteng pertahanan terbaik.
-
Samsung (Versi IDC): Masih bertahta sebagai penguasa pasar dengan pangsa 21,7%. Pertumbuhan 3,6% ini dipicu oleh euforia Galaxy S26 Ultra yang permintaannya meledak, menutupi kelesuan di segmen menengah.
-
Apple: Tampil perkasa berkat iPhone 17. Strategi Apple mengamankan rantai pasok ultra-premium membuatnya hampir “kebal” krisis. Di China saja, Apple mencatat pertumbuhan fantastis di atas 30%.
Pabrikan China Kawakan Terpukul Telak
Nasib kontras dialami oleh raksasa China seperti Xiaomi, Oppo, dan vivo. Ketiganya mengalami penurunan pengapalan yang cukup signifikan karena pasar segmen menengah-bawah yang mereka kuasai paling sensitif terhadap kenaikan harga komponen.
-
Xiaomi: Menjadi yang paling terpukul dengan penurunan tajam mencapai 19%.
-
Oppo & vivo: Juga mencatat rapor merah dengan penurunan di kisaran 2% hingga 9,9%.
Menariknya, di balik jatuhnya para raksasa China, merek-merek seperti Honor, Google, dan Nothing justru menunjukkan taringnya. Honor memimpin perlawanan dengan pertumbuhan mencapai 24-25%, membuktikan bahwa ekspansi agresif ke pasar baru bisa menjadi celah di tengah krisis.
Perbandingan Data: IDC vs Counterpoint (Q1 2026)
| Indikator | Data IDC | Data Counterpoint |
| Posisi 1 | Samsung (62,8 Juta unit) | Apple (Tumbuh 5% YoY) |
| Posisi 2 | Apple (Tumbuh 3,3% YoY) | Samsung (Turun 6% YoY) |
| Nasib Xiaomi | Anjlok 19,1% | Turun 19% |
| Bintang Baru | Honor (+24%) | Honor & Nothing (+25%) |
Analisis Ahli: Dilema Harga vs Pertumbuhan
Associate Director IDC, Kiranjeet Kaur, menyebut periode ini sebagai waktu yang sangat menantang.
“Apple dan Samsung sangat diuntungkan oleh dominasi segmen premium. Mereka secara strategis mampu menahan kenaikan harga demi menjaga loyalitas, sementara vendor lain dipaksa memutar otak untuk menaikkan harga jual demi menutupi biaya produksi yang bengkak,” tuturnya.
Ke depan, industri diramal masih akan dibayangi awan mendung. Jika krisis chip memori berlanjut, konsumen harus bersiap menghadapi kenaikan harga HP baru di kuartal-kuartal mendatang.