GAZA, PALESTINA – Perang yang terus berkecamuk di Tepi Barat telah menargetkan kamp pengungsi Nur Shams di Tulkarm, memaksa ribuan warga sipil untuk mengungsi.
Serangan besar-besaran oleh pasukan pendudukan Israel mengguncang wilayah tersebut, mengubah kehidupan banyak keluarga Palestina yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Pada hari Senin, puluhan keluarga Palestina dipindahkan secara paksa dari kamp pengungsi Nur Shams. Warga setempat menggambarkan suasana yang mencekam, dengan suara ledakan, pengeboman, dan buldoser yang menghancurkan rumah mereka.
“Kami mendengar ledakan dan pengeboman serta buldoser. Ini tragedi. Mereka melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan di Gaza,” ungkap Ahmed Ezza, seorang warga kamp.
Menurut laporan saksi, pasukan Israel mulai menghancurkan rumah-rumah mereka.
“Tentara datang dan kami dipaksa pergi setelah mereka mulai menghancurkan rumah kami,” kata Ahmed Abu Zahra, salah satu warga yang selamat.
Serangan ini adalah bagian dari operasi militer yang lebih besar di Tepi Barat yang dimulai sejak Januari, dengan fokus pada Tulkarm dan Jenin.
Murad Alyan, anggota komite rakyat kamp, menyebutkan bahwa lebih dari separuh dari 13.000 penduduk kamp pengungsi telah melarikan diri untuk menyelamatkan diri mereka.
Kekerasan yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya
Situasi ini digambarkan sebagai eskalasi kekerasan yang “belum pernah terjadi sebelumnya” oleh Ahmad al-Assaad, Gubernur Tubas. Menurutnya, pasukan Israel tidak hanya menargetkan pejuang bersenjata, tetapi juga warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak. Penghancuran rumah mereka dianggap sebagai taktik untuk memaksa mereka meninggalkan tempat tinggal mereka.
Serangan mematikan yang terjadi pada hari Minggu menambah kesedihan dan kecaman. Pasukan Israel menyerang kamp pengungsi Nur Shams, menyebabkan kematian seorang wanita hamil, Sundos Jamal Mohammed Shalabi, yang berusia 23 tahun, bersama bayinya yang belum lahir. Suami Shalabi terluka parah dalam serangan tersebut.
Saksi mata menyebutkan bahwa pasangan tersebut ditembaki saat berusaha melarikan diri dari kekerasan.
Kelompok hak asasi manusia Israel, B’Tselem, menyebutkan bahwa serangan ini adalah bagian dari “perang habis-habisan terhadap rakyat Palestina.” Mereka juga menekankan bahwa sejak gencatan senjata di Gaza, Tepi Barat telah menjadi “tempat yang terbakar.”
Motif di Balik Serangan Israel
Gubernur Tulkarem, Abdallah Kamil, menyebutkan bahwa serangan ini bukan hanya soal keamanan, tetapi juga masalah politik. “Mereka menghancurkan segalanya,” katanya. “Mereka mencoba mengubah demografi wilayah tersebut.”
Kementerian Kesehatan Palestina juga mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menyebabkan korban jiwa, sementara Kementerian Luar Negeri Palestina menilai bahwa Israel menerapkan taktik penghancuran yang sama seperti yang digunakan di Gaza.
Tantangan Kemanusiaan di Tengah Kekerasan yang Berkepanjangan
Konflik ini semakin memperburuk kondisi kemanusiaan di wilayah yang sudah dilanda ketegangan. Ribuan warga Palestina terpaksa melarikan diri dari rumah mereka, hidup dalam ketakutan akan serangan yang terus berlanjut.
Sementara itu, kecaman terhadap serangan militer Israel terus mengalir, baik dari kelompok internasional maupun warga Palestina yang merasakan dampaknya.
Perang yang melanda Tepi Barat ini bukan hanya sekadar kekerasan fisik, tetapi juga perjuangan untuk bertahan hidup dan mempertahankan tanah serta rumah mereka di tengah ancaman yang datang dari pasukan pendudukan.