JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran memutuskan menghentikan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) dan mengancam menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Langkah tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak global lebih dari 7 persen dan memperbesar kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi internasional.
Keputusan Iran diumumkan melalui laporan kantor berita Tasnim yang berafiliasi dengan pemerintah Teheran pada Senin (1/6/2026). Dalam laporan tersebut, Iran menyatakan tidak akan melanjutkan komunikasi maupun pertukaran pesan diplomatik dengan AS hingga Israel menghentikan seluruh operasi militernya di Lebanon dan Gaza.
Sikap keras Teheran muncul di tengah memanasnya kembali konflik kawasan yang telah memasuki bulan keempat. Iran menilai Israel terus melakukan pelanggaran terhadap gencatan senjata melalui serangan yang menyasar wilayah Lebanon, khususnya kawasan yang menjadi basis kelompok Hizbullah.
Dalam laporannya, Tasnim menegaskan bahwa proses diplomasi tidak akan berjalan selama Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di wilayah yang dianggap diduduki di Lebanon.
“Tidak akan ada dialog sampai Israel sepenuhnya menarik diri dari wilayah pendudukan di Lebanon dan menghentikan semua serangan di Lebanon dan Gaza,” demikian pernyataan yang dikutip Tasnim.
Tidak hanya menghentikan jalur diplomatik, Iran juga melontarkan ancaman yang berpotensi mengguncang perekonomian global. Teheran menyatakan siap memblokir Selat Hormuz secara penuh dan memperluas tekanan di jalur perdagangan strategis lainnya.
“Selain itu, front perlawanan dan Iran telah memutuskan untuk sepenuhnya memblokir Selat Hormuz dan mengaktifkan front lain termasuk Selat Babelmandeb, untuk menghukum Zionis dan pendukung mereka,” tulis laporan tersebut.
Ancaman itu mendapat perhatian serius karena Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama distribusi minyak dunia. Sebelum pecahnya konflik terbaru, sekitar 20 persen pasokan minyak global dikirim melalui perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Jika penutupan total benar-benar terjadi, analis memperkirakan harga minyak dunia berpotensi melonjak lebih tinggi dan memicu tekanan inflasi di berbagai negara yang masih berupaya menjaga pemulihan ekonomi.
Harga Minyak Melonjak, Pasar Khawatir Konflik Meluas
Respons pasar berlangsung cepat. Tak lama setelah laporan Tasnim beredar, harga minyak mentah internasional melonjak lebih dari 7 persen. Kenaikan tajam itu mencerminkan kekhawatiran investor bahwa peluang penyelesaian diplomatik semakin menipis.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sempat membuka peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran. Tiga hari lalu, Trump bahkan menggelar pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih untuk membahas kemungkinan persetujuan sebuah kesepakatan yang diharapkan mampu menghentikan konflik.
Namun, pertemuan tersebut berakhir tanpa keputusan final dari Trump. Situasi kemudian kembali memburuk setelah kedua negara saling melancarkan serangan baru dalam beberapa hari terakhir.
Rangkaian aksi militer tersebut dinilai semakin menggerus efektivitas gencatan senjata yang sebelumnya telah berkali-kali mengalami pelanggaran.
Di saat bersamaan, Israel meningkatkan tekanan militernya di Lebanon. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Senin dilaporkan memerintahkan serangan ke wilayah pinggiran Beirut yang selama ini dikenal sebagai basis kuat Hizbullah.
Perkembangan tersebut memperkuat keyakinan Iran bahwa kesepakatan damai tidak lagi memiliki landasan yang cukup untuk dilanjutkan.
Iran Sebut Pelanggaran di Lebanon Sama dengan Pelanggaran Gencatan Senjata
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa gencatan senjata yang disepakati sebelumnya tidak hanya berlaku untuk hubungan langsung antara Iran dan AS, melainkan juga mencakup seluruh medan konflik yang terkait.
Dalam pernyataannya melalui media sosial X, Araghchi menegaskan bahwa setiap serangan di Lebanon harus dipandang sebagai pelanggaran terhadap keseluruhan kesepakatan.
“Gencatan senjata antara Iran dan AS secara tegas merupakan gencatan senjata di semua lini, termasuk di Lebanon,” tulis Araghchi.
Ia juga memperingatkan bahwa konsekuensi dari pelanggaran tersebut akan menjadi tanggung jawab pihak yang terlibat.
“Pelanggaran di satu lini merupakan pelanggaran gencatan senjata di semua lini. AS dan Israel bertanggung jawab atas konsekuensi dari setiap pelanggaran,” lanjutnya.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Iran kini menghubungkan secara langsung perkembangan di Lebanon dengan hubungan diplomatiknya bersama Washington.
Trump Klaim Iran Masih Ingin Berdamai
Meski ketegangan meningkat, Presiden Trump tetap menunjukkan optimisme bahwa peluang tercapainya kesepakatan belum sepenuhnya tertutup.
Dalam unggahan di platform Truth Social pada Senin pagi, Trump menegaskan bahwa Iran masih memiliki keinginan untuk mencapai kesepakatan dengan AS.
Ia juga menyindir sejumlah pihak di Amerika Serikat yang terus mengkritik pendekatan pemerintahannya dalam menangani konflik Timur Tengah.
Trump menyatakan Iran “benar-benar ingin membuat kesepakatan”, sembari mengecam para pengkritik yang menurutnya terus memberikan komentar negatif terkait upaya penyelesaian perang.
Namun demikian, keputusan Iran menghentikan negosiasi dan ancaman menutup Selat Hormuz menjadi sinyal bahwa jalan menuju penyelesaian diplomatik masih akan menghadapi tantangan besar. Jika ketegangan terus meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat konflik, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas pasar energi dan ekonomi global.