TEHERAN, IRAN — Badan intelijen utama Amerika Serikat, CIA, secara mengejutkan mengakui bahwa kampanye pengeboman besar-besaran yang dilancarkan Washington terhadap Iran tidak membuahkan hasil sesuai target yang dicanangkan Gedung Putih. Penilaian intelijen terbaru ini menjadi pukulan telak bagi narasi kemenangan yang selama ini digaungkan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Dokumen intelijen yang pertama kali diungkap harian The Washington Post itu disusun oleh analis CIA. Isinya tegas: meski serangan udara digelar tanpa jeda selama berhari-hari, Iran tetap kukuh mempertahankan sikapnya soal sanksi internasional, kedaulatan negara, dan kendali keamanan di Selat Hormuz — jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia.
Temuan ini terungkap tepat ketika militer AS memasuki malam kesebelas berturut-turut menggempur wilayah Iran, setelah Trump secara sepihak mendeklarasikan berakhirnya gencatan senjata yang sempat disepakati kedua negara.
Serangan Meluas, tapi Iran Tak Goyah
Laporan intelijen tersebut menyoroti empat indikator utama yang menunjukkan betapa rapuhnya strategi militer AS di Iran.
Konflik regional yang kian melebar menjadi sorotan pertama. Gempuran udara AS telah menewaskan puluhan warga Iran, termasuk anak-anak, sementara tiga tentara Amerika ikut tewas akibat serangan balasan Iran akhir pekan lalu. Pasukan AS dilaporkan telah membidik ratusan titik di seluruh Iran, mulai dari jembatan, jalur kereta api, hingga fasilitas pembangkit listrik — bukan cuma sasaran militer, tapi juga infrastruktur sipil. Dampaknya merembet jauh melampaui perbatasan Iran: Yaman merespons dengan menutup total Selat Bab el-Mandeb, pintu gerbang menuju Laut Merah, sehingga jalur pelayaran global ikut terganggu.
Krisis energi di dalam negeri AS menjadi indikator kedua yang tak kalah mencolok. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu anjloknya cadangan minyak mentah strategis Amerika ke titik terendah sejak tahun 1983. Imbasnya langsung terasa di pom bensin — harga rata-rata bensin di seluruh AS melonjak hingga di atas 4 dolar AS per galon. Meski begitu, dalam pertemuannya dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun, Trump justru kembali melontarkan ancaman untuk memperbesar skala serangan, termasuk niat menghancurkan seluruh pembangkit listrik, jembatan, dan infrastruktur energi Iran.
Ancaman itu terbukti bukan sekadar gertakan. Pada Rabu pagi, gelombang serangan baru menghantam sejumlah provinsi Iran nyaris bersamaan. Di Ilam, gubernur Abdanan melaporkan dua proyektil menghantam area di luar kota tanpa menimbulkan korban jiwa. Di Hamadan, wilayah Kabudrahang turut menjadi sasaran, sementara di Hormozgan, ledakan mengguncang kawasan dekat Sirik sekitar pukul 02.20 dini hari. Provinsi Sistan dan Baluchestan juga tak luput, dengan serangan menyasar distrik Chabahar dan Konarak. Di Azerbaijan Timur, ledakan terdengar di dekat Tabriz meski pejabat setempat menegaskan tak ada titik di dalam kota yang menjadi target langsung. Serangan rudal turut menghantam kawasan Behbahan dan Omidiyeh di Provinsi Khuzestan. Dari seluruh lokasi tersebut, otoritas setempat kompak melaporkan situasi terkendali dan nihil korban jiwa yang signifikan — sinyal bahwa warga dan aparat darurat Iran sudah terbiasa menghadapi eskalasi semacam ini.
Balasan Iran yang terus mengalir menjadi indikator ketiga betapa strategi “gempur lebih keras” ala Washington belum menunjukkan hasil. Iran tak tinggal diam. Aset militer AS di Yordania dan sejumlah negara Teluk Persia menjadi sasaran serangan balasan Teheran, dengan korban jiwa yang cukup signifikan di kalangan pasukan Amerika, terutama di Yordania. Penilaian CIA bahkan secara eksplisit menyebut Trump kini berada dalam “dilema” akibat perang AS-Israel yang mereka lancarkan terhadap Iran sejak Februari lalu.
Keteguhan Iran di tengah gempuran menjadi indikator keempat sekaligus kesimpulan paling telak. Mantan wakil kepala intelijen nasional AS, Jonathan Panikoff, secara terbuka mempertanyakan logika strategi pemerintahan Trump. Kepada The Washington Post, ia menyebut asumsi bahwa Iran akan melunak jika terus digempur secara militer sebagai <cite index=”3-1″>”almost certainly incorrect”</cite> alias hampir pasti keliru. Laporan intelijen itu sendiri menegaskan Iran kemungkinan besar tidak akan merasakan dampak berarti meski dihujani serangan udara besar-besaran.
Pola yang Sudah Terbaca Sejak April
Kesimpulan CIA kali ini sebenarnya bukan kejutan total. Penilaian intelijen sebelumnya pada April lalu, yang sempat dikutip CNN, telah mengingatkan bahwa Teheran masih memegang kemampuan peluncuran rudal yang signifikan meski sudah dihantam serangan gabungan AS-Israel. Salah satu sumber intelijen bahkan menyebut pasukan Iran “masih sangat siap” untuk menciptakan kekacauan besar di seantero kawasan bila konflik terus berlanjut.
Dengan kombinasi krisis energi domestik, korban jiwa yang terus bertambah di kedua belah pihak, dan eskalasi yang merembet ke jalur pelayaran internasional, penilaian CIA ini menempatkan pemerintahan Trump pada persimpangan sulit: melanjutkan strategi kekuatan militer yang menurut lembaga intelijennya sendiri tidak efektif, atau mencari jalan keluar diplomatik di tengah tekanan politik domestik yang kian membesar.