JKARTA – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan pada 1 Juni. Eskalasi ini terjadi di tengah perundingan tidak langsung yang telah berlangsung selama beberapa pekan namun belum menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik maupun membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk.
Kantor berita Tasnim yang dilansir Hurriyet Daily News, Selasa (2/6/2026), melaporkan bahwa Teheran memutuskan menangguhkan seluruh komunikasi dengan mediator yang terlibat dalam perundingan perdamaian dengan Washington. Keputusan tersebut diambil dengan alasan masih berlangsungnya serangan Israel di Lebanon.
“Mengingat kejahatan berkelanjutan rezim Zionis (Israel) di Lebanon dan mengingat bahwa Lebanon adalah salah satu prasyarat gencatan senjata dan bahwa gencatan senjata ini sekarang telah dilanggar di semua lini, termasuk Lebanon, tim negosiasi Iran menangguhkan dialog dan pertukaran teks melalui mediator,” lapor Tasnim.
Menurut laporan tersebut, Iran mensyaratkan “penghentian segera” operasi militer Israel di Gaza dan Lebanon serta penarikan pasukan Israel dari wilayah yang didudukinya di negara tetangga bagian utara sebelum pembicaraan dapat dilanjutkan.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat menyatakan telah melancarkan “serangan bela diri” terhadap fasilitas radar dan pusat kendali drone milik Iran pada akhir pekan. Serangan itu disebut sebagai gelombang ketiga dalam kurun sekitar satu pekan dan dilakukan sebagai respons atas jatuhnya pesawat nirawak MQ-1 milik AS.
Tak lama setelah serangan tersebut, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan melalui media pemerintah bahwa mereka telah menargetkan pangkalan udara yang digunakan militer AS sebagai lokasi asal serangan.
IRGC tidak mengungkapkan negara tempat pangkalan tersebut berada. Namun, militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat “serangan rudal dan drone musuh.”
Sebelumnya, Iran telah terlibat pembicaraan dengan Amerika Serikat mengenai masa depan program nuklirnya sejak Februari. Proses diplomatik itu berlangsung ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara serta rudal yang menewaskan sejumlah pemimpin senior Republik Islam Iran dan memicu meluasnya konflik di Timur Tengah.
Meski Teheran berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya hanya ditujukan untuk kepentingan sipil, Amerika Serikat bersama sekutu-sekutu Baratnya tetap mencurigai adanya upaya pengembangan senjata nuklir.
“Kami tahu kapan perlu bertindak dalam hal-hal nuklir,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, dalam konferensi pers mingguan pada 1 Juni.
“Belum ada negosiasi yang dilakukan mengenai detail berkas nuklir. Pada tahap ini, prioritas kami adalah mengakhiri perang.”
Baqaei juga menegaskan bahwa situasi di Lebanon menjadi faktor penting dalam upaya penyelesaian konflik.
“Kami menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon adalah syarat penting untuk setiap kesepakatan yang bertujuan mengakhiri perang,” kata Baqaei, menambahkan, “Amerika Serikat juga melanggar gencatan senjata, termasuk pagi ini.”