Di tengah keriuhan agenda peresmian panen raya tebu nasional di Kabupaten Malang, Jawa Timur, terselip sebuah kisah humanis yang menyentuh hati. Bagi Mistin, seorang buruh tani berusia 60 tahun asal Desa Robyong, Kecamatan Pakis, hari Jumat (17/7/2026) itu akan selalu menjadi lembaran sejarah yang tak terlupakan dalam hidupnya.
Sejak fajar menyingsing, wanita paruh baya ini sudah bersiap di area perkebunan tebu Lanud Abdulrachman Saleh. Satu-satunya bahan bakar yang membakar semangatnya hari itu adalah keinginan sederhana yang teramat besar: melihat dan menjabat langsung tangan Presiden RI, Prabowo Subianto.
Penantian panjang di bawah terik matahari itu tidak sia-sia. Dengan guratan senyum lebar di wajah senjanya, Mistin menceritakan bagaimana ia bertahan menanti kedatangan sang Kepala Negara.
“Senang sekali bisa bertemu langsung dengan Pak Presiden. Saya nunggu sampe lesu (lemas), kata orang-orang. Tapi memang ingin sekali bertemu Pak Presiden, ingin salim biar tahu aslinya,” cerita Mistin dengan logat Jawa yang kental.
Filosofi Sederhana Buruh Tani: “Nek Gak Semangat, Gak Mangan”
Bagi seorang buruh tani seperti Mistin, kebahagiaan sejati tidaklah rumit. Bisa bertatap muka langsung dengan pemimpin tertinggi negeri ini sudah menjadi berkah luar biasa. Di balik jabat tangan hangat tersebut, Mistin menitipkan doa dan harapan tulus agar nasib para pekerja tanah seperti dirinya tidak lagi luput dari perhatian pemerintah.
“Ya, rasanya senang sekali. Harapan saya cuma satu, semoga petani kita biar makmur, gitu aja,” tuturnya polos.
Meskipun usianya sudah senja dan fisiknya tak lagi muda, semangat Mistin untuk terus mengais rezeki di ladang tebu tidak pernah pudar. Baginya, kerja keras adalah satu-satunya navigasi untuk bertahan hidup di tengah kerasnya realita.
Saat ditanya dari mana energinya berasal, Mistin menjawabnya dengan sebuah prinsip hidup yang menampar:
“Nek gak semangat, gak mangan (Kalau tidak semangat, ya tidak makan),” ucapnya singkat namun sarat makna.
Kehadiran Presiden Prabowo di ladang tebu Malang hari itu tidak hanya menandai mulanya langkah besar swasembada pangan nasional, tetapi juga menyalakan lentera harapan kecil bagi para buruh tani seperti Mbah Mistin yang menggantungkan hidup dari tetes keringat di tanah ibu pertiwi.