JAKARTA – Anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, menegaskan pada Senin bahwa gencatan senjata “sepihak” tidak akan bertahan di Lebanon. Ia menekankan tidak akan “kembali” ke kondisi sebelum 2 Maret, saat konflik mulai memanas.
Berbicara kepada Al-Manar TV, yang dilansir Anadolu, Selasa (2/6/2026), Fadlallah menyatakan bahwa posisi Lebanon berpusat pada gencatan senjata komprehensif “melalui darat, udara, dan laut,” sebagai langkah menuju penarikan pasukan Israel dan kembalinya warga yang mengungsi ke desa mereka. Ia menambahkan, Hezbollah hanya akan mematuhi perjanjian setelah Israel memberikan komitmen yang “jelas dan eksplisit,” termasuk penghentian penghancuran rumah di Lebanon selatan.
Fadlallah juga menyinggung tekanan Iran yang mengancam menangguhkan pembicaraan, yang menurutnya berkontribusi pada perubahan arah situasi.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyebut Israel dan Hezbollah telah sepakat menghentikan serangan melalui kontak perantara. Trump mengatakan telah menerima jaminan bahwa “semua penembakan akan berhenti.”
Namun, serangan Israel terhadap Lebanon tetap berlanjut meski gencatan senjata yang dimulai 17 April telah diperpanjang 45 hari. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan lebih dari 3.400 korban jiwa sejak 2 Maret.