WASHINGTON, D.C, AS – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menanggapi insiden kebocoran pesan teks yang berisi strategi militer AS dalam operasi penyerangan ke Yaman. Pesan tersebut tidak sengaja diterima oleh seorang wartawan. Meski terjadi kebocoran informasi, Trump disebut tetap mendukung tim keamanan nasionalnya.
Trump Tegaskan Kepercayaan pada Tim Keamanan
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt menegaskan bahwa Presiden Trump tidak goyah dalam mendukung timnya. “Presiden Trump terus memiliki kepercayaan penuh pada tim keamanan nasionalnya, termasuk Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz,” kata Leavitt dalam pernyataan resmi yang dikutip AFP, Selasa (25/3/2025).
Wartawan Masuk Grup Rahasia, Bom Benar-benar Jatuh
Kebocoran ini bermula ketika nomor wartawan The Atlantic, Jeffrey Goldberg, secara tidak sengaja dimasukkan ke dalam grup pesan berisi pejabat tinggi AS, termasuk Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Grup tersebut mendiskusikan strategi serangan ke Yaman.
Goldberg sendiri mengaku kaget saat mendapati dirinya menerima pesan-pesan rahasia itu.
“Para pemimpin keamanan nasional AS memasukkan saya dalam obrolan grup tentang serangan militer yang akan datang di Yaman. Saya tidak mengira itu bisa menjadi kenyataan. Kemudian bom mulai berjatuhan,” tulisnya dalam laporan eksklusif di The Atlantic.
Gedung Putih Tinjau Ulang Prosedur Keamanan
Menyikapi kebocoran ini, juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Brian Hughes, menyatakan bahwa pihaknya sedang mengevaluasi kesalahan teknis yang terjadi.
“Kami sedang meninjau bagaimana nomor yang tidak sengaja ditambahkan ke rantai tersebut,” ujarnya, seperti dilaporkan AFP.
Insiden ini memunculkan pertanyaan serius tentang protokol keamanan informasi di tingkat tertinggi pemerintahan AS. Apakah ini sekadar human error atau ada celah keamanan yang lebih besar? Sementara itu, respons cepat Trump menunjukkan upaya untuk meredam potensi krisis kepercayaan publik.