JAKARTA – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin pesat. Teknologi ini mampu membantu manusia mengolah informasi, menyelesaikan pekerjaan, hingga memberikan rekomendasi. Namun, kecanggihan AI bukan berarti seluruh kemampuan manusia bisa digantikan oleh mesin.
Head of Asia Pacific Zoom, Carlos Quaderi, menilai sejumlah kualitas manusia justru akan semakin penting di tengah perkembangan AI. Kemampuan tersebut mencakup empati, interaksi sosial, penilaian berdasarkan pengalaman, serta kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Dalam wawancara di Jakarta pada Kamis (8/10/2026), Carlos menjelaskan bahwa AI dapat meniru cara manusia berpikir dan berkomunikasi. Meski begitu, kemampuan meniru tersebut tidak sama dengan memiliki kesadaran seperti manusia.
AI Bisa Meniru Manusia, tetapi Bukan Berarti Memiliki Kesadaran
Menurut Carlos, AI memiliki kemampuan mengolah pengetahuan dan menjalankan tugas dengan sangat baik. Teknologi ini bahkan dapat memberikan respons yang tampak seperti hasil pemikiran manusia.
Namun, ia membedakan kemampuan AI dalam meniru proses berpikir dengan kesadaran manusia yang sesungguhnya. Karena itu, kemajuan AI perlu dipahami bukan hanya dari sisi kemampuan teknisnya, tetapi juga dari hal-hal yang masih membutuhkan keterlibatan manusia.
Empati dan kemampuan membangun hubungan antarmanusia menjadi beberapa aspek yang dinilai tetap penting. Pengalaman hidup juga berperan dalam membentuk pertimbangan seseorang ketika menghadapi situasi yang kompleks.
Empati dan Pengalaman Jadi Nilai Penting
Ketika AI semakin banyak digunakan untuk membantu pekerjaan, kemampuan manusia tidak cukup hanya diukur dari kecepatan menyelesaikan tugas.
Manusia tetap dibutuhkan untuk memahami konteks, mempertimbangkan dampak keputusan, dan berinteraksi dengan orang lain. Dalam situasi tertentu, keputusan tidak hanya bergantung pada data, tetapi juga membutuhkan pertimbangan yang mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan seseorang.
Hal tersebut membuat kemampuan komunikasi, empati, dan penilaian berdasarkan pengalaman menjadi keterampilan yang perlu terus dikembangkan.
Manusia Tetap Perlu Mengawasi Keputusan AI
Carlos juga menyoroti pentingnya konsep human in the loop, yakni keterlibatan manusia dalam proses kerja yang menggunakan AI.
Dalam penerapannya, manusia bukan sekadar memeriksa hasil yang dibuat oleh AI setelah pekerjaan selesai. Keterlibatan manusia juga diperlukan ketika teknologi mulai membantu menghasilkan rekomendasi atau keputusan yang berdampak besar.
Salah satu contohnya adalah bidang medis. AI dapat membantu menganalisis data kesehatan dan mendukung proses identifikasi suatu kondisi. Namun, keputusan medis tetap membutuhkan keterlibatan tenaga kesehatan yang dapat mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh.
Dengan pengawasan tersebut, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu tanpa sepenuhnya menyerahkan keputusan penting kepada teknologi.
AI Bukan Berarti Manusia Kehilangan Peran
Perkembangan AI menunjukkan bahwa dunia kerja akan terus berubah seiring meningkatnya kemampuan teknologi dalam menangani berbagai tugas. Meski demikian, manusia masih memiliki peran penting dalam memberikan pertimbangan, memahami kebutuhan orang lain, dan menentukan keputusan yang sesuai dengan situasi.
Karena itu, kemampuan menggunakan AI perlu berjalan beriringan dengan pengembangan keterampilan manusia. Teknologi dapat membantu meningkatkan efisiensi, sedangkan empati, pengalaman, dan kebijaksanaan tetap menjadi bekal penting dalam menghadapi persoalan yang tidak selalu bisa diselesaikan hanya dengan data.