WASHINGTON – Putaran ketiga aksi unjuk rasa “No Kings” kembali mengguncang Amerika Serikat. Ribuan kota di seluruh negeri menjadi arena demonstrasi menentang kebijakan Presiden Donald Trump, mulai dari deportasi agresif hingga peran di Iran.
Menurut penyelenggara, lebih dari 3.200 acara digelar di semua 50 negara bagian, dengan dua pertiga berlangsung di luar kota besar. Mobilisasi ini disebut sebagai lonjakan signifikan dibandingkan aksi perdana Juni lalu.
Dilansir dari Reuters, Minggu (29/3/2026) di Minnesota, ribuan orang berkumpul di luar gedung capitol negara bagian Saint Paul. Gubernur Tim Walz menegaskan, “Benar sekali kami telah diradikalisasi — diradikalisasi oleh belas kasih, kesopanan, due process, demokrasi, dan untuk menentang otoritarianisme.” Senator Bernie Sanders juga hadir, sementara Bruce Springsteen membawakan lagu Streets of Minneapolis yang menyoroti korban kebijakan imigrasi.
New York menjadi salah satu pusat aksi dengan puluhan ribu orang memenuhi midtown Manhattan. Aktor Robert De Niro menyebut Trump sebagai “ancaman eksistensial terhadap kebebasan dan keamanan kita.” Di Washington, slogan pro-demokrasi berkumandang di National Mall, sementara di Maryland kelompok lansia ikut berpartisipasi dengan spanduk bertuliskan “Menentang tirani.”
Bentrok kecil terjadi di Dallas antara demonstran No Kings dan kelompok kontra-protes, termasuk yang dipimpin mantan pemimpin Proud Boys, Enrique Tarrio. Polisi melakukan sejumlah penangkapan.
Menjelang pemilu paruh waktu November, penyelenggara melihat lonjakan partisipasi di negara bagian konservatif seperti Idaho dan Utah. Leah Greenberg dari Indivisible menyebut antusiasme besar juga muncul di daerah pinggiran kota kompetitif.
Aksi kali ini berlangsung di tengah konflik Iran yang memasuki minggu keempat. Morgan Taylor, peserta di Washington, menilai intervensi militer Trump sebagai “perang bodoh.”