Juara dunia Formula 1 bertahan, Lando Norris, akhirnya angkat bicara mengenai alasannya menyampaikan permohonan maaf secara pribadi maupun publik kepada pembalap Alpine, Franco Colapinto. Langkah tersebut diambil usai kritik tajam yang ia lontarkan pasca-insiden tabrakan di GP Azerbaijan memicu gelombang perundungan siber (cyberbullying) yang liar.
Dalam insiden di Baku tersebut, Colapinto mengalami terkunci roda (lock-up) saat safety car restart, lalu menyapu rekan setimnya Pierre Gasly yang selanjutnya menghantam mobil McLaren milik Norris. Benturan tiga mobil itu seketika menghentikan langkah ketiganya dari balapan.
Di tengah panasnya emosi pasca-balapan, Norris sempat melontarkan kalimat pedas bahwa pembalap muda asal Argentina itu “seharusnya dijatuhi sanksi larangan membalap” dan “tidak layak berada di F1”. Kritik keras tersebut langsung memicu serangan siber masif dari pendukung Colapinto kepada Norris.
Minta Maaf Langsung Sebelum Klarifikasi di Media Sosial
Menjelang gelaran GP Bahrain yang berlangsung di Sirkuit Sepang, Malaysia—di mana Colapinto harus menerima penalti turun lima posisi grid—Norris mengungkapkan bahwa ia telah menghubungi Colapinto secara pribadi sebelum merilis pernyataan resmi di media sosial.
“Langkah itu sebenarnya lebih ditujukan untuk audiens yang lebih luas. Bagi saya, Franco adalah satu-satunya orang yang benar-benar berhak mendengar pendapat serta permohonan maaf saya secara langsung,” ungkap Norris kepada awak media di Sepang, Kamis (1/10/2026).
“Saya rasa kita tidak wajib menggunakan media sosial hanya untuk meminta maaf. Tetapi karena ada begitu banyak riuh di latar belakang, saya pikir sangat bijak untuk menunjukkan secara terbuka bahwa saya sudah meminta maaf.”
Pembalap asal Inggris tersebut mengakui kekhilafannya dan menilai bahwa luapan emosinya di layar televisi tidak mencerminkan nilai pribadi yang dianutnya.
“Saya mengakui bahwa saya salah. Karena kalimat itu saya ucapkan di depan kamera TV dan dilihat semua orang, rasanya adil jika saya membagikan penyesalan itu kepada publik. Ucapan itu bukan cerminan bagaimana saya membawa diri,” tambahnya.
Batas Tegas Antara Fanatisme dan Ujaran Kebencian
Meski memahami bahwa fanatisme olahraga kerap memicu emosi tinggi di kalangan pendukung, Norris mengecam keras aksi perundungan siber yang sudah melampaui batas kewajaran.
“Sayangnya, inilah realita yang harus kita hadapi. Banyak cabang olahraga berurusan dengan hal serupa akibat gairah pendukung yang mudah disalurkan lewat media sosial. Sampai batas tertentu saya menghormati antusiasme itu, tetapi ketika sudah masuk ke tahap ujaran kebencian hingga ancaman pembunuhan, itu sudah jauh melampaui batas sebagai fans,” tegas Norris.
“Ada garis tegas yang tidak boleh dilanggar. Ini masalah lama yang terus berulang dan menegaskan bahwa platform media sosial serta penyelenggara olahraga harus berbuat lebih banyak untuk menghentikan hal-hal seperti ini.”