LONDON – Mikel Arteta mengungkapkan bahwa dirinya telah membicarakan sesuatu dengan Max Dowman sebelum Arsenal menghadapi Fleetwood Town, setelah remaja berusia 16 tahun itu menerima kartu merah dalam kekalahan mengejutkan di Carabao Cup.
Dowman diusir wasit setelah melakukan tendangan ke arah Harrison Neal menyusul benturan keras, sehingga Arsenal harus menuntaskan pertandingan dengan 10 pemain.
Mengutip Evening Standard, Rabu (28/10/2026), saat Dowman berjalan menuju lorong stadion, Arteta terlihat menegur pemain muda tersebut dengan ekspresi marah dari pinggir lapangan.
Ketika ditanya mengenai perkataannya kepada Dowman, Arteta menjawab kepada BBC Radio 5 Live, “Sesuatu yang sudah kami diskusikan sebelumnya, sebelum pertandingan.”
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa Arteta telah mengingatkan Dowman tentang potensi permainan fisik lawan serta pentingnya mengendalikan emosi agar tidak terpancing melakukan pembalasan.
Dowman sebelumnya juga pernah menerima kartu merah ketika membela timnas Inggris U-19 pada awal Oktober 2026, sehingga insiden terbaru ini kembali menyoroti kedisiplinannya di lapangan.
Arteta belum bersedia memberikan penilaian final terhadap keputusan wasit karena ingin meninjau rekaman pertandingan secara menyeluruh.
“Sulit melihatnya dengan jelas melalui kamera seperti itu, jadi saya lebih memilih menontonnya kembali dengan saksama sebelum menilai situasinya,” kata Arteta.
Arsenal Gagal Maksimalkan Peluang
Kartu merah Dowman bukan satu-satunya masalah Arsenal karena tim asuhan Arteta juga gagal menyingkirkan Fleetwood Town, klub yang berkompetisi di League Two atau kasta keempat sepak bola Inggris.
Arsenal harus menerima kenyataan tersingkir setelah pertandingan berakhir imbang 1-1 dan Fleetwood memenangkan adu penalti untuk mengamankan kemenangan bersejarah di Carabao Cup.
Arteta tetap membela sikap para pemainnya, tetapi mengakui bahwa dominasi permainan tidak cukup apabila peluang yang tercipta gagal dikonversi menjadi gol.
“Saya sama sekali tidak bisa menyalahkan sikap para pemain,” ujar Arteta, yang menilai anak asuhnya telah menunjukkan usaha sesuai tuntutan pertandingan.
“Saya tidak melihat ada pemain yang gagal melakukan apa yang dibutuhkan pada level ini, tetapi kami terlalu banyak menguasai bola, menciptakan banyak peluang, dan melepaskan banyak tembakan,” lanjutnya.
“Jika ingin unggul lebih jauh daripada harus menjalani adu penalti, kami harus memanfaatkan peluang-peluang tersebut, tetapi kami gagal melakukannya, dan sepak bola memang ditentukan oleh hal seperti itu,” tutup Arteta.
Hasil tersebut menjadi pukulan bagi Arsenal karena dominasi penguasaan bola dan banyaknya peluang tidak mampu membawa mereka melewati lawan dari divisi yang lebih rendah.
Kasus Dowman juga menjadi perhatian tersendiri bagi Arteta, yang perlu memastikan pemain mudanya mampu menghadapi tekanan dan permainan keras tanpa kehilangan kendali emosi.***