JAKARTA – Amerika Serikat dan Iran sama-sama mengeluarkan peringatan keras menjelang berakhirnya gencatan senjata pada 21 April 2026. Ketidakpastian masih menyelimuti rencana perundingan lanjutan di Pakistan yang sebelumnya diumumkan Presiden Donald Trump.
Dilansir Hurriyet Daily News, Selasa (21/4/2026), Gedung Putih menyebut Wakil Presiden JD Vance siap kembali ke Islamabad untuk putaran kedua pembicaraan. Namun, Teheran menolak mengonfirmasi kehadirannya dan menuduh Washington melanggar gencatan senjata melalui blokade pelabuhan serta penyitaan kapal. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan, “Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman, dan dalam dua minggu terakhir kami telah bersiap untuk menunjukkan kartu baru di medan perang.”
Garda Revolusi Iran memperingatkan akan menargetkan kapal yang melintas di Selat Hormuz tanpa izin. Trump menuding Teheran melanggar gencatan senjata dengan mengganggu jalur transit minyak dunia tersebut. Ia menegaskan di Truth Social bahwa blokade AS terhadap Iran tidak akan berakhir “sampai ada KESEPAKATAN” terkait program nuklir.
Sementara itu, gencatan senjata terpisah antara Israel dan Lebanon diumumkan pada 17 April. Meski ada rencana pembicaraan lanjutan di Washington, kekerasan sporadis masih terjadi. Militer Israel memperingatkan warga sipil agar tidak kembali ke desa-desa di Lebanon selatan, sementara Dewan Keamanan PBB mengutuk pembunuhan seorang penjaga perdamaian Prancis yang dituding dilakukan Hizbullah.
Sejak awal perang, serangan Israel ke Lebanon telah menewaskan sedikitnya 2.387 orang. Di sisi lain, isu uranium yang diperkaya Iran menjadi pokok perdebatan dalam negosiasi dengan AS. Trump menegaskan pengambilannya akan “lama dan sulit” setelah serangan AS terhadap situs nuklir Teheran tahun lalu.
Situasi ini membuat pasar global bergejolak. Harga minyak sempat turun pada 21 April, sementara saham menguat tipis di tengah harapan akan kesepakatan damai yang bisa membuka kembali Selat Hormuz.