JAKARTA – Pemerintah Indonesia dengan tegas mengecam segala bentuk intimidasi, ancaman, dan teror yang menimpa warga negara, khususnya aktivis lingkungan serta konten kreator yang menyuarakan kritik terhadap kebijakan publik, termasuk penanganan bencana banjir dan longsor di Sumatra.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Angga Raka Prabowo, menyusul rentetan teror yang dialami sejumlah tokoh publik pada akhir Desember 2025. Para korban di antaranya pemusik asal Aceh Ramond Dony Adam atau Dj Donny, Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia Iqbal Damanik, influencer Sherly Annavita, aktor Yama Carlos, serta Chiki Fawzi.
“Pemerintah dengan tegas menolak dan mengecam segala bentuk intimidasi, ancaman, atau teror terhadap warga negara, termasuk terhadap konten kreator, aktivis, maupun siapa pun yang menyampaikan kritik,” kata Angga dalam keterangannya, Jumat (2 Januari).
Angga menegaskan bahwa kebebasan berpendapat merupakan hak dasar yang dijamin oleh konstitusi. Ia merujuk pada Pasal 28E ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 yang menjamin hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat.
Gelombang teror ini diduga berkaitan dengan kritik terbuka para korban terhadap lambatnya respons pemerintah dalam menangani dampak banjir bandang dan longsor di wilayah Sumatra dan Aceh.
Dj Donny menjadi salah satu korban pertama. Pada Senin, 29 Desember 2025, ia menerima paket berisi bangkai ayam dengan kepala terpotong disertai surat ancaman yang melarangnya bersuara di media sosial. Dua hari kemudian, pada Rabu dini hari, 31 Desember 2025, rumahnya diserang dengan lemparan bom molotov oleh dua pelaku bermasker. Aksi tersebut terekam kamera CCTV. Bom mengenai kap mobilnya namun tidak meledak. Peristiwa ini telah dilaporkan ke Polda Metro Jaya.
Iqbal Damanik juga menjadi sasaran intimidasi. Pada Selasa pagi, 30 Desember 2025, bangkai ayam ditemukan di teras rumahnya tanpa bungkus, disertai secarik kertas ancaman. Greenpeace Indonesia merespons kejadian tersebut melalui pernyataan resmi di akun Instagram @greenpeaceid.
Sherly Annavita mengalami teror berupa lemparan telur busuk ke rumahnya, pencoretan mobil oleh orang tak dikenal, serta surat ancaman yang menuduhnya memanfaatkan bencana Aceh untuk kepentingan pribadi.
Sementara itu, Yama Carlos menerima ancaman melalui pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal setelah mengunggah video satir terkait penanganan bencana di Sumatra. Pesan tersebut memerintahkannya untuk segera menghapus konten yang telah diunggah. Yama menyebut pesan tersebut singkat, padat, namun menimbulkan rasa tidak nyaman.
Chiki Fawzi juga dilaporkan mengalami ancaman digital serupa.
Rentetan kasus ini memicu kekhawatiran publik terhadap menyempitnya ruang kebebasan berekspresi di Indonesia. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk melindungi hak konstitusional warga negara, sementara aparat penegak hukum diharapkan segera mengusut tuntas para pelaku guna mencegah eskalasi lebih lanjut.