TEHERAN, IRAN – Iran membalas serangan mendadak dari Israel dan Amerika Serikat dengan meluncurkan rudal balistik jarak menengah seri Qadr, memicu pertempuran sengit yang telah menelan lebih dari 550 korban jiwa sejak akhir Februari. Konflik ini kini meluas ke negara-negara Teluk dan menimbulkan ancaman perang regional yang lebih luas.
Serangan awal dilancarkan oleh Israel, didukung AS, pada Sabtu (28/2/2026), dengan menargetkan kota-kota utama di Iran. Hingga Selasa, mayoritas korban tewas dilaporkan berasal dari wilayah Iran. Eskalasi berlangsung cepat dengan keterlibatan pangkalan militer AS di kawasan Teluk, seperti Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Rudal Qadr, yang termasuk dalam keluarga Ghadr-110, memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer sehingga mampu menjangkau wilayah Israel dan instalasi militer AS. Sistem ini sebelumnya diuji dalam latihan militer Iran dan dinilai efektif dalam Operasi True Promise pada Juni tahun lalu, ketika rudal tersebut menghantam sasaran dengan presisi tinggi.
Varian Qadr-H dilengkapi kemampuan multi-hulu ledak untuk penyebaran bom klaster, sementara Qadr-F dijuluki “Israel Killer” karena jarak tempuhnya yang mencakup seluruh wilayah Israel. Meski bukan senjata paling mutakhir milik Teheran, rudal ini bersama Emad menjadi andalan kekuatan pertahanan Iran, sebagaimana terlihat dalam sejumlah operasi sebelumnya.
Serangan Gabungan AS-Israel dan Dampaknya
Koalisi AS-Israel melancarkan bombardemen udara dan rudal secara masif terhadap fasilitas militer serta lokasi kepemimpinan kunci di Iran. Target utama serangan disebut untuk melemahkan kapabilitas strategis Teheran, termasuk program nuklir dan dukungan terhadap kelompok militan regional.
Pejabat AS mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, beserta sejumlah komandan dan pejabat tinggi lainnya dalam serangan tersebut. Iran kemudian membenarkan laporan itu, menjadikannya momen krusial dalam sejarah konfrontasi langsung antara kedua pihak.
Respons Iran dan Penyebaran Konflik
Sebagai balasan, Iran mengerahkan rudal dan drone ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, dan Bahrain, yang menyebabkan korban di kalangan tentara dan warga sipil. Dampaknya tidak terbatas pada dua negara utama. Milisi Hizbullah di Lebanon turut menembakkan roket ke Israel, memicu respons militer lanjutan dari Tel Aviv di perbatasan utara.
Situasi ini memicu kekhawatiran global atas potensi perang skala besar di Timur Tengah dengan keterlibatan lebih banyak aktor regional. Para analis terus memantau perkembangan, sementara upaya diplomatik internasional dilakukan untuk meredam ketegangan yang semakin meningkat.