ACEH – Hujan deras yang mengguyur Pidie Jaya pada Rabu (24/12/2025) sore kembali memicu banjir susulan ketiga. Luapan Sungai Krueng Meureudu dan Krueng Ulee Gle merendam puluhan kampung di lima kecamatan, memaksa ratusan warga mengungsi setelah sebagian besar tenda pengungsian hanyut terbawa arus.
Banjir mulai melanda sekitar pukul 14.59 WIB. Air bah dengan cepat menggenangi permukiman warga, terutama di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua. Warga bergegas menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari luapan air yang terus meningkat.
Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Cabang Pidie Jaya, Muhammad Qiqi, menyebut banjir kali ini kembali memicu trauma warga yang belum sepenuhnya pulih dari bencana banjir bandang dan longsor sejak akhir November lalu.
“Ini banjir ketiga. Warga sangat panik. Sebagian pengungsi yang sebelumnya tinggal di tenda terpaksa mencari tempat tidur darurat di depan toko-toko,” kata Qiqi kepada RMOLAceh, Kamis (25/12/2025).
Menurut Qiqi, dampak banjir susulan ini cukup berat. Sekitar 85 persen tenda pengungsian dilaporkan rusak atau hanyut, termasuk tenda bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lembaga kemanusiaan, maupun tenda swadaya masyarakat.
“Bukan hanya tenda, sebagian logistik pengungsi juga ikut terbawa arus. Ini sangat memukul kondisi psikologis warga,” ujarnya.
Hingga Rabu malam, ketinggian air dilaporkan mulai surut. Namun, genangan air dan lumpur tebal masih tersisa di sejumlah titik, menyebabkan jalan licin dan menghambat mobilitas warga. Beberapa wilayah juga masih berisiko tinggi akibat kondisi tanah yang labil dan rawan longsor.
Qiqi menegaskan perlunya rehabilitasi sungai secara menyeluruh di Pidie Jaya sebagai solusi jangka panjang untuk menghentikan siklus banjir berulang. Ia khawatir bencana yang terus terjadi akan memperburuk kondisi sosial dan mental masyarakat.
“Hujan itu rahmat. Jangan biarkan masyarakat terus hidup dalam rasa takut setiap kali hujan turun,” tegasnya.
Data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya mencatat banjir kali ini berdampak pada puluhan kampung di lima kecamatan.
Di Kecamatan Meureudu, kampung terdampak meliputi Blang Awe, Manyang Cut, Manyang Lancok, Beurawang, Meunasah Lhok, Meunasah Pante Gelima, Meunasah Dayah Panuek, Mesjid Tuha, Lhok Nga, Kota Meureudu, Dayah Kleng, dan Meunasah Balek.
Sementara di Kecamatan Meurah Dua, banjir merendam Meunasah Bie, Meunasah Raya, Gampong Blang, Blang Cut, Dayah Husen, Dayah Kruet, Meunasah Mancang, Pante Beurene, Beringin, Lueng Mimba, dan Buangan.
Di Kecamatan Ulim, wilayah terdampak meliputi Tijin Daboh, Tijin Husen, dan Gelanggang. Kecamatan Panteraja mencakup Mesjid, Tunong, Tengeh, Lhok Puuk, Muka Blang, serta Hagu.
Adapun di Kecamatan Bandar Dua, banjir menerjang Alue Ketapang, Babah Krueng, Drien Tujoh, Alue Sane, Pohroh, Blang Kuta, Jeulanga, Paya Pisang Klat, dan Alue Mee.
Pihak berwenang terus memantau perkembangan situasi dan menyalurkan bantuan darurat bagi warga terdampak banjir di Pidie Jaya.
