JAKARTA – Stres tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis, tetapi juga dapat memengaruhi sistem kardiovaskular. Dalam kondisi tertentu, tekanan emosional yang berat dan berlangsung terus-menerus dapat ikut meningkatkan risiko gangguan jantung.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian terbesar di dunia. Pada 2022, sekitar 19,8 juta orang meninggal akibat penyakit kardiovaskular secara global.
Stres Mendadak Bisa Meningkatkan Beban Kerja Jantung
Dokter dalam laporan detikHealth menjelaskan stres akut dapat memberikan efek langsung terhadap tubuh. Ketika seseorang mengalami rasa takut, kaget, atau tekanan emosional yang berat, tubuh akan meningkatkan pelepasan hormon stres seperti adrenalin dan kortisol.
Respons tersebut membuat denyut jantung dan tekanan darah meningkat sehingga kebutuhan oksigen jantung ikut bertambah. Pada orang yang sudah memiliki penyakit jantung koroner atau penumpukan plak di pembuluh darah, perubahan mendadak tersebut dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah pada jantung.
American Heart Association juga menjelaskan bahwa stres akut dapat memicu penyempitan pembuluh darah koroner, mengurangi aliran darah ke otot jantung, dan memengaruhi irama jantung. Karena itu, lonjakan stres berat dapat menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kejadian jantung pada orang tertentu.
Meski begitu, stres tidak berarti otomatis menyebabkan serangan jantung. Risiko seseorang juga dipengaruhi faktor lain seperti tekanan darah tinggi, kadar kolesterol, diabetes, kebiasaan merokok, usia, dan riwayat keluarga.
Stres Kronis Bisa Berdampak dalam Jangka Panjang
Berbeda dengan stres sesaat, stres kronis dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Kondisi tersebut membuat tubuh lebih sering berada dalam respons stres dan dapat berkontribusi terhadap berbagai faktor risiko penyakit jantung.
American Heart Association menyebut stres kronis dapat berkaitan dengan tekanan darah tinggi. Selain itu, stres juga bisa mendorong kebiasaan yang kurang sehat, seperti merokok, makan berlebihan, kurang berolahraga, dan gangguan tidur. Kebiasaan-kebiasaan tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
Sebuah pernyataan ilmiah American Heart Association pada 2025 juga menyebut stres akut dikaitkan dengan peningkatan risiko infark miokard, gangguan irama jantung, dan kematian mendadak. Sementara itu, stres kronis dikaitkan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular di masa mendatang.
Kenali Gejala Serangan Jantung
Karena stres dapat menimbulkan keluhan seperti jantung berdebar atau sesak, gejalanya terkadang sulit dibedakan dari kondisi lain. Namun, serangan jantung tetap harus dianggap sebagai keadaan darurat medis.
WHO menyebut gejala yang perlu diwaspadai antara lain nyeri atau rasa tidak nyaman di bagian tengah dada, nyeri yang dapat menjalar ke lengan, bahu, rahang, atau punggung, sesak napas, mual, pusing, hingga keringat dingin.
Pada akhirnya, mengelola stres merupakan salah satu bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung. Namun, pencegahan tetap perlu dilakukan bersama dengan pengendalian faktor risiko lain seperti tekanan darah, kolesterol, gula darah, aktivitas fisik, pola makan, serta menghindari rokok.