JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan program Gerakan Pangan Murah (GPM) tetap menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.
Meskipun di satu sisi, inflasi beras nasional berhasil dipertahankan pada level yang relatif rendah selama dua tahun terakhir.
Kepala Bapanas yang juga menjabat Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menilai kondisi tersebut merupakan pencapaian positif karena beras yang selama ini kerap menjadi pemicu inflasi nasional kini tidak lagi mendominasi tekanan harga di pasar.
“Kita syukuri beras tak lagi menjadi penyumbang utama (inflasi) 2 tahun terakhir. Kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Mendagri (Tito Karnavian) atas support-nya selama ini”
Pernyataan itu disampaikan Amran dalam rapat pengendalian inflasi yang membahas perkembangan harga pangan dan langkah antisipasi pemerintah dalam menjaga ketersediaan serta keterjangkauan bahan pokok bagi masyarakat.
Inflasi Beras Menunjukkan Tren Terkendali
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pergerakan inflasi beras dalam dua tahun terakhir cenderung stabil dan tidak mengalami lonjakan signifikan.
Tingkat inflasi beras terakhir yang tergolong tinggi terjadi pada Mei 2024 dengan angka mencapai 3,59 persen.
Setelah periode tersebut, tekanan inflasi beras terus melandai dan bergerak pada level yang lebih rendah.
Pada Juli 2025 sempat terjadi kenaikan inflasi beras sebesar 1,35 persen, namun angka tersebut masih berada dalam kategori terkendali dibandingkan periode sebelumnya.
Sementara itu, pada Mei 2026 inflasi beras tercatat hanya sebesar 0,38 persen, memperlihatkan kondisi harga yang relatif stabil di tingkat konsumen.
Pemerintah Daerah Diminta Aktif Menggelar Pasar Murah
Meski kondisi harga beras relatif aman, pemerintah tetap meminta seluruh daerah untuk meningkatkan pelaksanaan pasar murah sebagai langkah pencegahan terhadap gejolak harga pangan.
Amran meminta gubernur, bupati, dan wali kota di seluruh Indonesia memperkuat sinergi dengan Perum Bulog dan ID Food agar program pasar murah dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
“Kami mohon seluruh gubernur, bupati, wali kota seluruh Indonesia, kalau perlu dengan Bulog, kita aktifkan pasar murah.”
“Beras, ayam, telur. Kalau ayam dengan telur, ini terendah, sangat murah. Kalau bisa, Bulog membantu dan juga ID Food dengan pasar murah supaya menjadi ‘offtaker’ dari telur dan ayam,”
Menurutnya, langkah tersebut tidak hanya menjaga harga pangan di tingkat konsumen tetap terjangkau, tetapi juga membantu menyerap produksi peternak ayam dan telur yang saat ini menghadapi harga jual yang rendah.
Ribuan Gerakan Pangan Murah Sudah Digelar di Seluruh Indonesia
Program Gerakan Pangan Murah yang dikoordinasikan Bapanas bersama pemerintah daerah terus menunjukkan cakupan yang semakin luas.
Sejak Januari hingga awal Juni 2026, kegiatan GPM telah terlaksana sebanyak 5.308 kali di 37 provinsi dan lebih dari 350 kabupaten/kota.
Pemerintah memastikan pelaksanaan program tersebut akan terus berlangsung secara berkelanjutan tanpa jeda guna menjaga keseimbangan pasokan dan harga pangan nasional.
Tito Karnavian Sebut Beras Tak Lagi Menjadi Pemicu Inflasi Utama
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkapkan bahwa perkembangan terbaru menunjukkan beras tidak lagi masuk dalam daftar komoditas penyumbang utama inflasi bulanan nasional.
“Good news-nya adalah bahan pokok yang utama seperti beras, itu tidak masuk dalam komoditas penyumbang utama (inflasi) month to month (secara bulanan),”
Menurut Tito, kondisi tersebut menjadi kabar baik karena beras merupakan kebutuhan pokok yang paling banyak dikonsumsi masyarakat sehingga stabilitas harganya memiliki pengaruh besar terhadap tingkat inflasi nasional.
Meski demikian, pemerintah tetap memantau perkembangan harga beras secara berkala karena dinamika pasar masih terjadi di sejumlah daerah.
Kenaikan Harga Masih Terjadi pada Komoditas Hortikultura
Berdasarkan pemantauan Indeks Perkembangan Harga (IPH) hingga pekan kedua Juni 2026, pergerakan harga beras masih berada dalam kategori moderat.
Sebaliknya, tekanan harga yang lebih tinggi justru terjadi pada sejumlah komoditas hortikultura.
Bawang merah menjadi komoditas dengan kenaikan IPH tertinggi, disusul cabai merah, cabai rawit, serta bawang putih.
Tito menilai dampak kenaikan komoditas tersebut terhadap inflasi nasional tidak sebesar beras karena bukan termasuk kebutuhan pokok utama masyarakat.
“Beras memang ada beberapa daerah yang naik (IPH), tapi naiknya sedikit 116 kabupaten kota. (IPH beras) yang turun juga ada 50 kabupaten kota. (Jadi) good news-nya, beras bagus,” ujar Tito.
Kesejahteraan Petani Ikut Mengalami Perbaikan
Di tengah stabilitas harga beras di tingkat konsumen, indikator kesejahteraan petani juga menunjukkan perkembangan yang positif.
Data BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 mencapai 127,73, menjadi salah satu level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara itu, NTP tanpa subsektor perikanan meningkat menjadi 128,49 atau melampaui rekor sebelumnya sebesar 126,11 yang tercatat pada Desember 2025.
Kondisi positif juga terlihat pada subsektor tanaman pangan yang mencatat indeks NTP sebesar 113,79 dan menjadi yang tertinggi sepanjang tahun 2026.
Tidak hanya itu, indeks harga yang diterima petani padi mencapai 147,97 pada Mei 2026, sekaligus menjadi posisi tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Pencapaian tersebut menunjukkan bahwa stabilitas harga beras yang terjaga di tingkat konsumen tidak serta-merta menekan pendapatan petani, melainkan berjalan seiring dengan membaiknya indikator kesejahteraan sektor pertanian nasional.***