Di tengah badai geopolitik global yang kian rumit, ketahanan ekonomi Indonesia justru menunjukkan taji yang kokoh. Perekonomian domestik sukses mencetak pertumbuhan impresif sebesar 5,6 persen pada kuartal pertama tahun 2026. Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di antara seluruh anggota G20.
Meski mencatat rapor hijau, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI), Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., mengingatkan semua pihak agar tidak cepat berpuas diri. Ia menyerukan pentingnya menjaga konsistensi tren positif ini demi membentengi ketahanan nasional.
“Kita harus terus mendorong agar tren pertumbuhan yang positif ini dapat terus dijaga dan ditingkatkan pada tahun-tahun yang akan datang,” tegas Ace saat membuka Seminar Nasional Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N) 27 di Ruang Dwi Warna Purwa, Lemhannas RI, Selasa (26/5/2026).
Kejar Target Berani Presiden Prabowo Subianto
Ace menjelaskan bahwa penguatan benteng ekonomi ini sejalan dengan cetak biru yang telah digariskan oleh Presiden Prabowo Subianto. Dalam pidato pengantar kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal di Gedung DPR RI pada 20 Mei 2026 lalu, Kepala Negara secara berani membidik target pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 5,6 hingga 6,5 persen untuk tahun depan (2027).
Guna mengamankan target ambisius tersebut dari benturan volatilitas pasar global, Lemhannas mendesak pemerintah untuk segera merumuskan mitigasi risiko yang cermat, terukur, dan efektif. Kuncinya berada pada karpet merah kemudahan investasi bagi para investor, serta runtuhnya ego sektoral lewat koordinasi ketat lintas kementerian dan lembaga.
“Sinergitas kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan harus didorong maksimal. Ini krusial untuk memperkuat stabilitas di tengah volatilitas pasar keuangan global demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” papar Ace Hasan.
Melalui forum ilmiah ini, Lemhannas menantang para calon pimpinan nasional untuk melahirkan pemikiran out-of-the-box dan rekomendasi kebijakan berbasis data (data-driven) yang bisa langsung dieksekusi oleh pemerintah.
Seminar strategis jelang kelulusan P3N 27 ini tidak main-main dalam menghadirkan otak di balik kebijakan moneter dan riil Indonesia. Terlihat hadir sebagai pembicara utama antara lain Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu, hingga Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu.