JAKARTA – Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitar Selat Sunda, tetapi juga mulai dirasakan dari sisi kesehatan.
Sebanyak 51 warga Kabupaten Pandeglang, Banten, tercatat mengalami keluhan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) setelah wilayah tersebut terdampak sebaran abu vulkanik.
Kepala Puskesmas Labuan, Sri Rejeki, mengatakan puluhan warga datang untuk mendapatkan pemeriksaan dengan keluhan yang berkaitan dengan gangguan pernapasan. Data tersebut tercatat hingga Selasa (8/9/2026) sejak sekitar pukul 13.00 WIB.
“Yang berobat ke Puskesmas Labuan untuk ISPA 51 orang, untuk diare 4 orang,” kata Sri Rejeki.
Sebagian besar warga yang mengalami keluhan tersebut merupakan orang dewasa. Mereka datang dengan gejala seperti sesak napas yang diduga berkaitan dengan paparan abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Meski jumlah warga yang mengalami keluhan cukup banyak, pihak Puskesmas Labuan menyebut belum ada pasien yang harus menjalani perawatan atau rawat inap akibat kondisi tersebut.
Aktivitas Anak Krakatau Masih Berlangsung
Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda masih berstatus Level III atau Siaga. Status tersebut ditetapkan berdasarkan rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Pada Selasa (8/9/2026), Gunung Anak Krakatau kembali mengalami sejumlah erupsi. Salah satunya tercatat pada pukul 11.34 WIB dengan durasi sekitar 17 detik dan amplitudo maksimum 55 milimeter berdasarkan pemantauan PVMBG.
Pada hari yang sama, aktivitas erupsi juga tercatat beberapa kali sejak pagi. Masyarakat diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau maupun melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Sebelumnya, hujan abu vulkanik juga telah melanda sejumlah wilayah di Pandeglang. BPBD Kabupaten Pandeglang menyebut intensitas hujan abu mulai mengalami penurunan, tetapi material abu masih ditemukan di sejumlah wilayah dengan intensitas lebih rendah.
Warga Diminta Waspada
Paparan abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan. Karena itu, warga di wilayah terdampak diimbau menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi abu kembali meningkat.
Pemerintah juga terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau serta dampak sebaran abunya di wilayah Banten dan daerah sekitarnya.
Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu mengikuti informasi resmi dari pemerintah daerah dan PVMBG, khususnya terkait perkembangan erupsi serta potensi penyebaran abu vulkanik.***