Fenomena langka meletusnya enam gunung berapi secara beruntun di berbagai wilayah Indonesia pada penghujung Agustus 2026 mendadak memicu riak teori konspirasi di media sosial. Isu liar yang berkembang bahkan mengaitkan kejadian alam tersebut dengan dugaan manipulasi gelombang frekuensi serta rekayasa teknologi buatan manusia.
Menanggapi kepanikan dan spekulasi publik tersebut, Guru Besar sekaligus Pakar Vulkanologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agung Harijoko, menegaskan bahwa fenomena tersebut murni merupakan proses geologi alamiah tanpa campur tangan manusia sama sekali.
Enam gunung api aktif yang tercatat mengalami erupsi bersamaan pada 31 Agustus 2026 tersebut meliputi Gunung Ibu (Maluku Utara), Gunung Semeru (Jawa Timur), Gunung Lewotobi Laki-Laki (Nusa Tenggara Timur), Gunung Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur), Gunung Anak Krakatau (Selat Sunda, Banten) dan Gunung Sinabung (Sumatera Utara).
Murni Tekanan Magma Alami, Bukan Senjata Teknologi
Prof. Agung Harijoko menekankan bahwa secara hukum geologi, erupsi terjadi akibat akumulasi energi alami di dalam perut bumi yang mencari jalan keluar.
“Saya menegaskan bahwa proses erupsi gunung api adalah murni proses geologi dan mekanisme alam. Dapur magma membangun tekanan internal secara bertahap hingga mencapai titik jenuh, lalu menerobos keluar ke permukaan. Ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan rekayasa teknologi, frekuensi, atau eksperimen buatan,” tegas Prof. Agung usai menghadiri diskusi Pojok Bulaksumur di Kampus UGM, Yogyakarta, Rabu (9/9/2026).
Tak Ada Bukti Ilmiah Spekulasi Konspirasi
Lebih lanjut, Prof. Agung menyampaikan bahwa klaim mengenai keterlibatan teknologi canggih dalam memicu erupsi berjamaah sama sekali tidak memiliki dasar sains maupun validasi ilmiah.
“Sampai saat ini tidak ada satu pun bukti ilmiah yang mendukung narasi spekulatif tersebut. Secara sains dan historis, Indonesia yang berada di jalur Ring of Fire sangat wajar memiliki beberapa gunung api aktif yang fase erupsinya kebetulan beririsan di waktu yang sama,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan memfilter setiap informasi yang beredar dengan merujuk pada penjelasan resmi lembaga vulkanologi terpercaya seperti PVMBG dan Badan Geologi, ketimbang mempercayai narasi konspirasi yang tidak berdasar.