LAMPUNG — Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda memicu terbentuknya daratan baru seluas 32,8 hektare di sekitar tubuh gunung. Namun, kemunculan daratan tersebut dipastikan bukan tanda lahirnya gunung api baru atau yang kerap disebut sebagai “cucu Krakatau”.
Edukator Mitigasi Bencana Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, daratan baru itu terbentuk akibat akumulasi material vulkanik yang dikeluarkan Gunung Anak Krakatau selama aktivitas erupsi.
Material tersebut antara lain berupa abu vulkanik, batuan, serta lelehan lava yang secara bertahap menumpuk dan mengendap di kawasan perairan sekitar gunung hingga akhirnya muncul ke permukaan laut.
“Proses penumpukan endapan tersebut berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas vulkanik, sampai akhirnya muncul ke permukaan,” ujar Daryono.
Kemunculan daratan tersebut diketahui melalui pemantauan citra satelit Sentinel yang dianalisis Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Hasil pemantauan menunjukkan adanya perubahan bentuk dan perluasan daratan di sejumlah titik di sekitar tubuh utama Anak Krakatau.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Rita Susilawati mengatakan, tambahan daratan itu tersebar pada beberapa sektor di sekitar gunung. Total luas daratan yang bertambah berdasarkan analisis citra mencapai 32,8 hektare.
“Ini merupakan akibat dari pengendapan material piroklastik dan aliran lava hasil erupsi menerus, dengan total penambahan luasan mencapai 32,8 hektare,” kata Rita dalam keterangan resminya, Kamis (24/9).
Berdasarkan analisis citra satelit, perluasan daratan paling terlihat di sektor barat laut, barat, hingga barat daya Anak Krakatau. Selain memperbesar struktur daratan utama, citra tersebut juga menunjukkan adanya dua gumuk pulau berukuran kecil yang terpisah dari tubuh utama, masing-masing berada di sisi barat laut dan tenggara.
PVMBG menyebut kemunculan gumuk-gumuk tersebut berkaitan dengan rangkaian erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam. Pada periode tersebut, magma dengan karakteristik encer bergerak menuju permukaan melalui celah atau rekahan memanjang yang berarah dari barat laut ke tenggara.
Material vulkanik yang keluar melalui jalur rekahan kemudian menumpuk di kawasan perairan. Akumulasi material tersebut secara perlahan membentuk daratan yang terpisah dari pulau utama Anak Krakatau.
Menurut Daryono, proses pembentukan daratan juga dipengaruhi kondisi geologi dan oseanografi di kawasan Selat Sunda. Area tersebut berada di cekungan dasar laut yang relatif dangkal dan merupakan bagian dari kaldera purba yang terbentuk setelah letusan besar Krakatau pada 1883.
Kondisi dasar laut yang relatif dangkal memungkinkan material hasil erupsi lebih mudah terakumulasi. Sementara itu, arus dan gelombang laut turut memindahkan material hasil erosi yang lebih ringan menuju kawasan perairan yang relatif tenang sehingga menambah endapan di sekitar daratan baru.
Meski telah muncul ke permukaan, struktur daratan tersebut belum sepenuhnya stabil. Keberadaannya masih sangat bergantung pada aktivitas vulkanik Anak Krakatau serta proses erosi yang berlangsung di kawasan perairan tersebut.
Apabila aktivitas erupsi terus berlangsung dan menghasilkan lava cair yang kemudian membeku menjadi batuan keras, daratan yang terbentuk berpotensi semakin padat dan meluas. Sebaliknya, jika aktivitas erupsi berhenti, material yang belum mengalami pemadatan dapat terkikis oleh gelombang dan abrasi.
Dalam kondisi tertentu, daratan muda itu bahkan dapat kembali terendam. Daryono menyebut longsoran bawah laut maupun aktivitas erupsi berskala besar juga dapat memengaruhi keberadaan struktur daratan yang baru terbentuk tersebut.
Di tengah kemunculan fenomena itu, Daryono menegaskan bahwa daratan baru di sekitar Anak Krakatau belum dapat disebut sebagai gunung api tersendiri. Setidaknya terdapat sejumlah karakteristik yang harus dipenuhi untuk mengategorikan sebuah struktur sebagai gunung api mandiri.
Pertama, struktur tersebut harus memiliki saluran magma sendiri yang terhubung ke dapur magma melalui rekahan baru. Kedua, harus terdapat aktivitas erupsi magmatik yang berasal dari kawahnya sendiri. Ketiga, perlu ditemukan struktur geologi yang terpisah, termasuk indikasi gempa vulkanik lokal maupun deformasi tanah yang terpusat di bawah struktur tersebut.
Ketiga indikator tersebut belum ditemukan pada daratan baru yang muncul di sekitar Anak Krakatau. Karena itu, kemunculannya lebih tepat dipahami sebagai hasil akumulasi material vulkanik dari aktivitas gunung api yang sudah ada.
“Kemunculan daratan baru ini adalah proses sedimentasi vulkanik yang lumrah di kawasan gunung api aktif,” ujar Daryono.
Masyarakat pun diminta tidak langsung mempercayai berbagai spekulasi yang beredar di media sosial terkait kemunculan daratan tersebut. Fenomena itu merupakan bagian dari dinamika aktivitas vulkanik dan proses geologi di sekitar Anak Krakatau.
Masyarakat juga diimbau tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang. Selain itu, keselamatan tetap menjadi prioritas dengan mematuhi batas aman yang telah ditetapkan, termasuk tidak mendekati kawasan dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau.