Ratusan personel tim gabungan berhasil mengendalikan dan memadamkan sebagian titik api yang membakar kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Jawa Barat. Langkah taktis pembuatan jalur sekat bakar (firebreak) sepanjang batas lidah api terus dikebut guna mencegah rembetan ke area vegetasi yang lebih rapat.
Operasi pemadaman darat ini melibatkan lebih dari 100 personel yang terdiri dari BPBD Kabupaten Kuningan, BPBD Jawa Barat, Balai TNGC, Masyarakat Peduli Api (MPA), TNI/Polri, Satpol PP, Damkar, relawan komunitas, serta warga lokal.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), turun langsung memantau sekaligus memimpin penanganan kebakaran di lereng Gunung Ciremai sejak Kamis (22/10/2026).
Insentif Rp250 Ribu/Hari dan Injeksi Bantuan Udara
Guna mempercepat lokalisasi kobaran api, Gubernur Dedi Mulyadi menginstruksikan partisipasi aktif warga desa dan komunitas lokal untuk membuat sekat bakar secara masif. Sebagai bentuk apresiasi, pemerintah memberikan kompensasi finansial langsung.
“Setiap warga dan anggota komunitas yang bahu-membahu membuat sekat bakar akan diberi honor Rp250.000 per hari,” tegas KDM dalam keterangan resminya, Jumat (23/10/2026).
Tak hanya penanganan darat, KDM memastikan dukungan taktis dari udara. Pihaknya berkoordinasi dengan BMKG untuk pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC/hujan buatan), serta menjalin komunikasi dengan Kementerian Pertahanan dan TNI AU guna mengerahkan armada udara.
“Saya sudah berkomunikasi dengan Pak Wamenhan dan jajaran TNI AU, armada helikopter akan segera diturunkan untuk melakukan pemadaman dari udara melalui skema water bombing,” tambah KDM.
Penyisiran Bara Sisa dan Pengawasan Medan Ekstrem
Kepala BPBD Jawa Barat, Teten Ali, menjelaskan bahwa tim lapangan saat ini fokus melakukan penyisiran (mopping up) untuk memadamkan sisa-sisa bara dan asap guna mengantisipasi risiko penyalaan ulang (reignisi).
Aparat juga disiagakan di titik-titik rawan perbatasan sekat bakar hingga malam hari. Guna mendukung keselamatan ratusan petugas di medan kritis, logistik berupa bahan makanan, air minum, serta Alat Pelindung Diri (APD) seperti helm, kacamata goggle, dan masker khusus telah disalurkan penuh.
Meski demikian, Teten mengungkapkan sejumlah kendala berat yang dihadapi tim gabungan di lapangan. Medan yang sangat terjal, berbukit, dan berbatu membatasi akses kendaraan pemadam. Angin kencang yang kerap berubah arah memicu munculnya titik api baru (spotting). Jarak sumber air utama yang cukup jauh dari titik kebakaran di atas gunung.
Insiden karhutla ini terdeteksi pertama kali di Blok Sipenpen Batu Arca, Wilayah I Kuningan, pada ketinggian ±1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). Material yang terbakar didominasi oleh semak belukar, alang-alang, serasah kering, hingga tegakan pohon pinus.
Hingga saat ini, BPBD Jabar bersama Balai TNGC masih melakukan kalkulasi dan pendataan resmi terkait total luas lahan yang terdampak kebakaran.