Aktris sekaligus edukator Maudy Ayunda mendadak menjadi sorotan publik usai konten YouTube terbarunya mengenai kesehatan mental menuai kritik tajam. Niat Maudy untuk membagikan panduan mindfulness di tengah maraknya kabar buruk nasional justru berhadapan dengan gelombang kritik warganet yang menilai narasi tersebut mengabaikan aspek kepekaan sosial dan privilese.
Kontroversi ini bermula dari video berdurasi panjang berjudul ‘Mindfulness in the Age of Bad News’ yang diunggah di kanal YouTube pribadinya pada akhir Agustus 2026.
Dalam video tersebut, Maudy membahas cara menjaga kestabilan emosi ketika dihujani berita negatif, mulai dari bencana alam, kelangkaan BBM, kebakaran hutan, hingga gejolak kebijakan pemerintah.
Namun, alih-alih mendapat respons positif, netizen menilai sudut pandang yang dibawakan Maudy terlalu terpisah (detached) dari realitas pahit yang dirasakan masyarakat terdampak langsung.
“Sakit hati melihat dia sarapan sehat dan tersenyum sementara orang lain kesulitan, lalu dia merasa ‘tidak nyaman’ dengan berita orang lain yang sedang kesusahan,” tulis salah satu warganet di kolom komentar.
Minta Maaf dan Evaluasi Soal Privilese
Merespons riak perdebatan yang kian membesar, Maudy Ayunda secara terbuka menyampaikan permohonan maaf dan memberikan klarifikasi melalui penyataan tertulis di kanal YouTube miliknya. Ia mengakui adanya ruang kosong dalam refleksinya terkait isu privilese.
“Bisa menjauh dari pemberitaan itu sendiri merupakan sebuah keistimewaan. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Saya meminta maaf karena bagian ini belum cukup saya refleksikan di dalam video,” ungkap Maudy.
Penegasan Terkait Konsep Mindfulness
Maudy menegaskan bahwa pemaparannya mengenai mindfulness sama sekali tidak ditujukan untuk mengajak masyarakat bersikap apatis, menutup mata, atau berpura-pura bahwa kondisi nasional dalam keadaan baik-baik saja.
Ia kembali menyinggung dampak nyata bencana alam dan kebijakan yang tidak tepat sasaran sebagai persoalan yang memang membutuhkan empati bersama.
“Saya sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada, apalagi ajakan untuk berdiam diri seolah-olah keadaan baik-baik saja,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Maudy memilih untuk menerima seluruh masukan dan kritik masyarakat secara terbuka. Ia menjadikan dinamika ini sebagai bahan evaluasi serta perspektif tambahan dalam menyusun konten-konten edukatif di masa depan.