Ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVII Jawa Tengah 2026 yang seharusnya menjadi panggung kejayaan para insan olahraga daerah, mendadak berubah menjadi lautan duka. Dalam rentang waktu dua hari berturut-turut, dua atlet muda kebanggaan daerah harus gugur di tengah perjuangan mereka mengharumkan nama kabupaten/kota masing-masing.
Pesta akbar yang diikuti lebih dari 7.000 atlet dari 35 kabupaten/kota di Semarang Raya—meliputi Kota Semarang, Salatiga, Demak, dan Kendal—ternyata menyimpan catatan pilu yang mendalam.
Insiden Pertama: Atlet Selam Jepara Gugur di Lautan
Kabar duka pertama mengguncang arena pertandingan pada Senin (26/10/2026). Atlet selam laut asal Kabupaten Jepara, Syabilla Rizkia Putri Raharja, mengembuskan napas terakhirnya saat tengah berjuang di nomor open water finswimming sejauh 3.000 meter.
Berdasarkan keterangan Kanitreskrim Polsek Semarang Barat, AKP Suprapto, korban diduga mengalami kehabisan napas di tengah perlombaan yang berlokasi di kawasan Awann Costa. Sempat terlihat melambaikan tangan untuk meminta pertolongan, panitia langsung bergerak cepat melakukan evakuasi ke daratan, namun takdir berkata lain.
Insiden Kedua: Pesilat Kota Semarang Berpulang Pasca-Operasi
Belum reda rasa terkejut publik atas tragedi di arena selam, duka kembali menyelimuti kontingen Kota Semarang dua hari berselang. Atlet pencak silat berbakat, Ayudiah Rivana Tridiandinata, meninggal dunia di rumah sakit pada Rabu (28/10/2026) pagi.
Ketua KONI Jawa Tengah, Sudjarwanto, menjelaskan bahwa Ayudiah—yang turun di nomor tarung kelas A putri (45–50 kg)—mengalami cedera patah jari tengah saat bertanding pada Senin (26/10). Ia kemudian dilarikan ke rumah sakit dan menjalani tindakan operasi pada Selasa (27/10). Namun, kondisi kesehatannya memburuk hingga akhirnya ia meninggal dunia dalam perawatan medis.
Porprov XVII Jateng 2026 yang dijadwalkan bergulir dari 25 hingga 31 Oktober 2026 ini sejatinya memiliki misi krusial sebagai ajang pembinaan sekaligus seleksi atlet menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Namun, berpulangnya dua atlet muda berbakat dalam satu pekan penyelenggaraan ini meninggalkan luka mendalam bagi dunia olahraga nasional, sekaligus memicu sorotan penting terkait standar pengamanan, mitigasi risiko medis, serta keselamatan para atlet di setiap arena pertandingan.